Rabu, 10 Februari 2016

2. Ulama



Semua pekerjaan yang dilakukan manusia selama untuk kebaikan adalah baik, tapi dari sekian pekerjaan itu ada pekerjaan yang mulia dihadapan Allah yaitu berda'wah. Da'wah adalah pekerjaan yang paling tinggi nilainya, da'wah adalah pekerjaan orang-orang pilihan yaitu nabi dan rasul maka juru da'wah adalah orang yang mulia setelah nabi dan rasul karena mereka melakukan pekerjaan rasul; "Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: "Sesungguhnya Aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?"[Fushilat 41;33]

            Rasulullah bersabda; "Orang yang paling tinggi kedudukannya disisi Allah pada hari kiamat adalah orang yang paling banyak berkeliling di muka bumi dengan memberi nasehat kepada manusia" [HR. Thahawi]

            Orang yang menyampaikan da'wah disebut juga dengan da'i, buya, ustadz, mubaligh, kiyai dan ulama, walaupun istilah tersebut tidaklah dapat disamakan, apalagi ulama, yang kita kenal sebagai tokoh yang kharismatik, ilmunya luas, jamaahnya banyak dan jam terbangnya sudah tak terhitung lagi, mereka adalah tokoh yang aktif berda'wah, seniornya para da'i dan mubaligh.

Karena tugas da’wah dan amar ma’ruf nahi mungkar itu diwajibkan bagi setiap orang islam, maka sejak Rasulullah meninggal dunia tugas penyiaran islam berlanjut terus. Tugas itu dipikul dan dilaksanakan oleh para sahabat nabi, dan setelah sahabat nabi meninggal dunia, tugas itu dilanjutkan oleh para thabi’in dan thabi’it thabi’in sampai kepada para alim ulama, ustadz dan mubaligh.

            Tugas da’wah itu beruntun terus, secara estafet dari masa ke masa, dari zaman ke zaman, dimana ada orang islam, dimana seseorang telah menjadi muslim, ia harus berda’wah dan beramar ma’ruf dan bernahi mungkar, sejak dari rasulullah hingga para ulama sekarang ini.

            Para ulamalah yang menerima amanat, atau memikul amanat dari Allah dan Rasulullah untuk melanjutkan da’wah dengan mengembangkan islam melalui ilmunya. Orang lain berda’wah dengan hartanya, dengan tenaganya, dengan buah fikirannya tetapi para ulama adalah orang yang berda’wah dengan ilmu, harta, tenaga, fikiran, jiwa dan raganya, ”Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah, mereka itulah orang-orang yang benar imannya” [Al Hujurat 49;15].

            Rasulullah bersabda, ”Ulama-ulama ummatku adalah sama derajatnya dengan nabi-nabi Bani Israil”. Jika ditakdirkan hadits ini shahih, maka sesuailah artinya dengan maksud hadits yang menyatakan, ”Ulama itu adalah pewaris nabi”, bila dikatakan bahwa ulama itu pewaris para nabi maka yang diwarisinya adalah ilmunya. Bila ilmunya ulama adalah ilmunya para nabi maka tanggungjawab para nabi pada umumnya adalah amar ma’ruf nahi mungkar kepada siapapun.

            Tugas seorang ulama, kiyai, ustdz, da’i dan juru da’wah atau  mubaligh tidaklah ringan karena dia sebagai obor dan teladan, tempat bertanya ummat dari segala persoalan dan tempat bersandar dari kebimbangan, dia ibarat sang dokter.

Da'wah membawa para ulama kepada kehidupan Rabbany yaitu kehidupan yang penuh dengan nilai-nilai Ilahi, mereka tercelup pada kehidupan yang islami sehingga kehidupannya jauh dari hal-hal yang negatif dan tercela, mereka adalah orang-orang yang selalu mengajak orang kepada agama Allah dan mereka adalah orang-orang yang selalu mengajar melalui pembinaan terhadap mad'unya namun  tidak lupa belajar untuk kepentingan peningkatan kualitas diri dan keluarganya;

" Tidak wajar bagi seseorang manusia yang Allah berikan kepadanya Al kitab, hikmah dan kenabian, lalu dia Berkata kepada manusia: "Hendaklah kamu menjadi penyembah-penyembahku bukan penyembah Allah." akan tetapi (Dia berkata): "Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani, Karena kamu selalu mengajarkan Al Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya" [Ali Imran 3;79]
Yang dikatakan dengan Rabbani itu adalah orang yang selalu mengajar dan selalu secara terus menerus belajar Al Qur'an;

            "Sebaik-baik kamu adalah orang yang mempelajari Al Qur'an dan mengajarinya" [HR. Bukhari dan Muslim]

Banyak sarana yang dapat dipakai untuk berda'wah diantaranya berupa tulisan yang tersaji dalam bentuk artikel atau makalah, semua itu untuk nashrul fikrah [penyebaran ide-ide] yang islami sekaligus mengantisipasi pemikiran-pemikiran yang berkembang tidak islami, cendrung menyesatkan  sehingga idiologi seorang muslim terkontaminasi oleh segala isme yang diciptakan manusia. Sebuah ungkapan mengatakan bahwa seorang muslim itu mempunyai dua kiblat, ketika shalat kiblatnya jelas ke ka’bah tapi segala tindak tanduk diluar shalat mereka berkiblat ke barat.

            Allah memberi tugas berat kepada siapa saja yang telah menyandang predikat muslim, da’i dan ulama untuk meluruskan pandangan ummat agar bergerak bersama islam dan berjalan menuju jalan Allah, dalam surat An Nahl 16;125 diterangkan, ”Ajaklah manusia itu ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik serta beragumentasilah dengan mereka dengan cara yang baik pula”.

            Rasulullah menegaskan kepada ummatnya, ”Sampaikanlah apa yang telah anda terima dariku meskipun hanya satu ayat”. Ini menunjukkan betapa pentingnya da’wah demi keselamatan hidup manusia di dunia hingga akherat. Bahkan seorang syaikh bernama Dr. Musthafa Mashur menyatakan, ”Nahnu Du’at qabla kulli syai’” artinya kami adalah da’i sebelum menjadi sesuatu apapun.

            Dari masa ke masa keberadaan ulama di tengah masyarakat sangat besar artinya, mereka diibaratkan, ”tongkat pemandu jalan di siang hari, dan obor penerang dimalam hari”, mereka bukan saja ahli dibidang agama, tetapi mereka  adalah kelompok yang terpanggil untuk memperbaiki masyarakat, menangkap aspirasi mereka, merumuskan dalam bahasa yang dapat dipahami setiap orang serta siap menawarkan strategi dan altenatif pemecahan masalah. Cukup jelas bahwa para nabi merupakan mercusuar yang tertinggi tentang kesempurnaan kemanusiaan. Oleh sebab itu, adakah suatu jabatan yang lebih mulia dan lebih tinggi yang melebihi para alim ulama itu, yang telah ditetapkan sebagai pewaris pada nabi ?  diterangkan dalam sebuah hadits , ”Akan ditimbang nanti tinta para alim ulama dan darah para pahlawan-pahlawan yang mati syahid pada hari kiamat”.

            Setiap orang pasti mengerti bahwa darah yang dialirkan untuk membela agama Allah atau fisabilillah adalah semahal-mahalnhya darah yang dikorbankan seorang manusia. Maka jika tinta kaum ulama yang digunakan mengarang kitab-kitab untuk kemanfaaan ummat manusia itu dapat menyamai darah orang yang matai syahid, bahkan ada sebagian riwayat yang menerangkan bahwa tinta itu bahkan melebihi nilainya, maka itulah suatu bukti yang jelas, sampai dimana islam memberikan kedudukan yang amat utama dan tertinggi bagi para ulama.

            Dahulu ulama bagi masyarakat islam khususnya sebagai tepat bertanya berbagai persoalan hidup, mereka tidak memandang asal ulama tersebut. Bagi mereka ulama adalah milik ummat, bukan milik satu golongan sehingga berlakulah pa yang difatwakan oleh seorang ulama diperbuat oleh masyaraka karena ulama tersebut menyampaikan fatwa sesuai dengan kebenaran Al Qur’an dan Hadits, yaitu dua pusaka yang telah ditinggalkan nabi, Rasulullah bersabda, ”Sekali-kali kamu tidak akan sesat selamanya bila kamu berpegang teguh dengan dua hal yaitu Al Qur’an dan Sunnahku”.

            Kini bagi masyarakat islam khususnya, ulama bukan lagi tempat bertanya segala persoalan hidup, bukan berarti ummat telah tahu jawaban segala persoalan. Hal ini terjadi karena terlalu banyak ulama yang bertipe su’ artinya ulama jelek, tidak sesuai dengan aspirasi ummat dan bertentangan dengan da’wah Rasulullah, beliau telah mensinyalir adanya ulama yang jelek atau ulama yang jahat itu dengan sabdanya, ”Celaka bagi ummatku, akibat dari perbuatan ulama su”.

            Perbuatan jelek seseorang tidak seburuk akibat pada masyarakat bila dibandingkan dengan perbuatan seorang ulama. Karena seorang ulama dipandang masyarakat sebagai pemuka. Orang yang berada di depan bila mempunyai gerak perbuatan apa saja, orang dibarisan belakang akan tahu. Tetapi sebaliknya, bila orang yang berada dibarisan belakang berbuat sesuatu, orang depan sukar mengetahuinya, bila tiada alat pengawas. Demikian pula perbuatan ulama. Gerak gerik dan tingkah laku ulama cepat diketahui masyarakat, karean letak ulama di tengah-tengah masyarakat bagaikan orang yang dibarisan depan, mudah dikenal dan diketahui gerak-geriknya, ”Sejelek-jelek yang paling jelek ialah ulama yang jelek, dan sebaik-baik dari yang paling baik adalah ulama yang baik” [Hakim].

            Tipe mereka yang dapat dimasukkan dalam bentuk ulama jelek adalah; ulama pemberi fatwa sesat, ulama yang membangun dinding fanatisme buta, ulama penyebar fitnah, ulama tukang jilat dan ulama yang tergelincir kepada  suatu perbuatan nista. Ali bin Abi Thalib pernah berkata, ”Lihatlah apa yang dibicarakan seseorang tapi jangan dilihat siapa yang berbicara”. Artinya segala fatwa yang disampaikan kalau sesuai dengan  ajaran Allah dan Rasul-Nya terimalah dan amalkan. Jangan dilihat orang yang menyampaikannya, mungkin rumah tangganya berantakan, mungkin dia hanya pandai berfatwa tapi enggan mengamalkan. Pada satu sisi maksud ucapan Ali bin Abi Thalib baik tapi pada sisi lain ummat tidak akan dapat menerima begitu saja karena bertentangan dengan kehendak Allah, Allah mengancam para ulama, ”Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat ? Amat besar kebencian Allah bahwa kamu mengatakan apa yang tiada kamu kerjakan”.[ Ash Shaf; 2-3].

            Sejak dahulu hingga kini terlalu banyak ulama yang dapat membenahi kehidupan seseorang agar menjadi baik, dia memberi penerangan kepada orang lain sementara dia dalam kegelapan, ibarat lilin, terang orang di sekitarnya  tapi sang lilin terbakar, sibuk mengajak orang, diri dan keluarga terabaikan, ”Mengapa kamu suruh orang lain mengerjakan kebaikan, sedang kamu melupakan kewajiban sendiri, padahal kamu membaca Al Kitab  [Taurat] ? Maka tidakkah kamu berfikir ?” [Al Baqarah 2;44].

Islam adalah agama Samawi yang diwahyukan Allah melalui para Nabi dan Rasul yang sebelumnya disebut dengan Risalah Tauhid, amanat terakhir dipikul oleh Nabi Muhammad untuk mengembangkan agama ini ke seluruh dunia, Islam sebagai agama rahmat bagi seluruh alam. Perkembangan islam selanjutnya hingga penyebaran da’wah mencapai seluruh penjuru dunia berkat  ”amal jama’i ” yaitu kerjasama yang solid dari ummat ini karena kesadaran diri bahwa Islam bukanlah milik satu golongan manusia saja dan tidak bersifat lokal tapi universal dengan target tidak semata-mata mencetak shaleh individu tapi keshalehan kolektif.

            Usaha itu dinamakan dengan da’wah yang telah disponsori oleh rasul, para sahabat dan shalafus shaleh. Allah menjelaskan tugas seorang mukmin adalah da’wah, mengajak manusia ke jalan-Nya dengan minhaji [tersistim], ”Ajaklah manusia ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik....” [An Nahl 16;125].

            Untuk mengerjakan itu semua perlu adanya kerja sama dan sama-sama bekerja demi tegaknya dienul islam di dunia ini sebagai investasi amal kita untuk menemui Allah serta memenuhi kewajiban kita sebagai muslim yang dituntut untuk bekerja semaksimal dan seoptimal mungkin. Semuanya harus sesuai dengan tiga hal yaitu; niatnya harus ikhlas, termotivasi hanya karena Allah, caranya harus sesuai yang dipraktekkan Rasulullah dan tujuannya mencari mardhatillah [ridha Allah].
           
            Demikian pentingnya bekerjasama untuk mengujudkan ketinggian islam di dunia ini, sejarah telah mencatat bahwa ketika ummat tidak bersatu, sibuk dengan kerja masing-masing, tidak mau mengorganisir amal dalam barisan yang tersusun rapi, saat itu tunggulah kehancurannya. memang masih panjang kerja para da’i untuk mensosialisasikan amal jama’i apalagi da’i sendiripun enggan diajak untuk bekerjasama membangun dan membina umat dalam sebuah wadah da’wah yang terorganisir dengan solid, walaupun sebatas jama’ah minal muslimin untuk menuju jamaah muslimin yang hanya berbenderakan satu khilafah, niscaya kejayaan islam diambang pintu.

            Para da’i dan ulama atau siapa saja yang konsen dengan perjuangan menegakkan islam di dunia ini, agar kerja tersebut dapat dilaksanakan dengan rapi perlu mensolidkan da’wah yang kita miliki,  kadangkala kita memikirkan islam pada sekup berdirinya sebuah khilafah yang akan memayungi ummat islam sementara konflik internal dalam jamaah da’wah suli untuk diselesaikan sehingga memperlambatr dan menghambat gerak da’wah.

            Cakar-cakaran antara kita dalam sebuah tubuh lembaga da’wah memicu terbengkalainya kerja besar yang sudah dirancang sejak zaman kenabian Rasulullah Saw. Jangankan untuk mengurus ummat islam secara regional, nasional dan internasional sedangkan dalam organisasi da’wahnya sendiri perlu keterlibatan pihak luar untuk menyelesaikannya. Bila hal ini terjadi berarti kejayaan dan keberhasilan da’wah jauh panggang dari pada api.

            Salah satu karakteristik da’wah itu mengatakan Islamiyyah qabla jam’iyah artinya islamisasi dahulu sebelum organisasi, sebelum melibatkan orang dalam sebuah lembaga, organisasi, apalagi lembaga da’wah perlu adanya takwin [pembentukan] kader-kader yang militan untuk menempati struktur lembaga tadi. Tidak solidnya jama’ah da’wah karena menerapkan terlebih dahulu prinsip yang terbalik yaitu Jam’iyah qabla islamiyah, mengutamakan organisasi sebelum  islamisasi.

            Dari sekian banyaknya ulama yang baik sebagai teladan dalam seluruh asfek kehidupannya, ada pula ulama yang dikelompokkan jahat memiliki ciri khas yang tidak sesuai dengan apa yang dicontohkan oleh Rasulullah, mereka itu punya karakter yaitu;

1.Ulama Pemberi fatwa sesat yaitu  ulama yang memutar balikkan ajaran islam, mereka  berfatwa menurut hawa nafsunya, menanamkan sifat fanatik kepada guru dan menafsirkan ayat sesuai dengan keinginan sendiri.

2.Ulama Pembangun fanatisme yaitu ulama yang membangun  Fanatik buta, mengajak masyarakatnya untuk terlalu cinta kepada fahamnya saja sehingga tidak mau menerima faham orang lain, dengan demikian akhirnya membentuk ajaran baru yang jauh dari nilai-nilai luhur islam dari Rasulullah, siapa saja yang tidak mau menerima ajaran mereka maka mereka mudah saja menuduh orang yang tidak dalam kelompoknya sesat dan kafir.

3.Ulama Penyebar fitnah yaitu ulama telah keluar dari etika dan akhlak sebagai muslim, terjadinya memfitnah karena pertentangan faham dan golongan yang memicu kebencian kepada ulama lain, contoh; Muhammad Abduh difitnah bahwa ketika dia meninggal lidahnya menjulur keluar satu hasta dan Hasan Al Banna difitnah akan menggulingkan rezim Gamal Abdul Naser, lalu dia dibunuh dan gerakannya Ikhwanul Muslimin dihancurkan, para ikhwan dipenjara tanpa tahu pengadilannya.

4.Ulama Tukang jilat yaitu ulama yang mencari keuntungan duniawi semata, biasanya yang dijilat; penguasa, atasan dan sponsor sehingga  fatwanya sesuai dengan pesan sponsor. Bila pesan yang disampaikan tidak sesuai maka mereka takut dipecat sehingga da'wah dan ceramah yang disampaikan adalah ucapan yang selalu menyanjung para penguasa atau pemberi sponsor. Biasanya para penjilat itu selalu menjilat kepada atasan dan itu belum selesai dan untuk menyenangkan atasan maka sikap kedua adalah menginjak yang dibawahnya yang dapat menaikkan popularitasnya.

5.Ulama yang rusak moralnya yaitu ulama yang sikapnya tidak beda dengan orang kebanyakan, walaupun ibadahnya tetap baik dan khutbahnya tetap menarik. Rasulullah bersabda: ''Ada seseorang yang bertanya kepada Rasulullah,"Ya Rasulullah, siapakah sejelek-jelek ulama ?" Nabi menjawab,"Ya Allah, ampunilah dosa kami, sejelek-jelek manusia itu adalah ulama, apabila mereka itu telah rusak moralnya" [Ibnu Bathah].

6.Ulama yang tergelincir yaitu ulama yang sudah terlanjur melakukan sesuatu diluar kewajaran seorang ulama, adapun sebab tergelincirnya ulama itu diantaranya ; ajaran yang salah tafsir sehingga mengajak orang sesat dan menyesatkan,  karena malu mengakui kekeliruan sehingga tetap dalam kekeliruannya hingga akhir hayat atau karena tuntutan pribadinya seperti ingin jadi wali sehingga berserikat dengan jin, ingin meraih jabatan sehingga menghalalkan segala cara.
Peringatan Rasulullah; "Janganlah kamu duduk disisi setiap orang alim, kecuali orang alim  yang mengajak kamu dari yang lima kepada yang lima;
1. dari keraguan kepada keyakinan yang benar
2. dari riya' kepada ikhlas
3. dari tamak kepada sederhana
4. dari sombong kepada tawadhu' [merendahkan diri]
5. dari permusuhan kepada kejujuran" 

Demikian peringatan Rasulullah tentang ulama yang layak dijadikan figur, sebagai teladan dalam hidup yang dicontoh prilakunya, bila keluar dari itu maka sebaiknya jangan dekati ulama itu dan segera cari ulama yang bertitel Warasatul anbiya' dapat kita baca dalam sejarah tentang tentang Isa yang menceritakan suatu kisah dalam kitab Injil, yang diriwayatkan oleh murid beliau bernama Barnabas.

            Ada seorang manusia yang memiliki tiga kebun anggur, dia menyewakan kepada ketiga orang petani, A, B,dan C. karena A tidak mengetahui bercocok tanam kebun anggur, maka kebun itu hanya menghasilkan dedaunan. B mengajarkan C bagaimana cara menanam dan merawat anggur agar hasilnya baik. Ketika waktu telah datang untuk membayar sewa kebun kepada yang punya kebun, yang A berkata kepada tuannya, ”Tuan, aku tidak tahu bagaimana cara berkebun anggur, karena itu aku tidak menghasilkan satupun buah-buahan tahun ini”, tuan itu menjawab,”Bodoh, apa kamu tinggal sendirian di dunia ini, sehingga kamu tidak bisa minta nasehat dari pemeliharaan kebun B dan C yang mengetahui bagaimana mengolah kebun anggur. aki bat kelalaian si A akhirnya dia diusir dari kebun yang disewanya itu.

            Tuan tanah datang ke tempat B dengan jawaban.”o, tuan, kebun engkau tidak menghasilkan apa-apa karena aku tidak memotong pohon lainnya dan tidak pula menggemburkan tanahnya”, lalu tuan memanggil si C dengan heran dia berkata, ”Hai C, kamu katakan kepadaku bahwa si B telah mengajarmu dengan sempurna cara menanam kebun anggur yang aku sewakan kepadamu. Kemudian bagaimana bisa jadi bahwa kebun anggur yang aku sewakan kepada B tidak menghasilkan buah, padahal sesmuanya sebidang tanah?”. dengan  nada berhati-hati C menjawab,”Tuan, anggur-anggur tidak ditanam dengan bicara saja, tapi harus dengan memeras keringat, membanting tulang kalau mau hasil buah yang baik, bagaimana akan hasilnya baik kalau dia hanya menghabiskan waktu dengan teori dan cakap-cakap saja. Aku tidak banyak teori menanam anggur tapi teori yang sedikit itu aku praktekkan sehingga mampu membayar sewa kebun tuan untuk dua tahun mendatang”.Tuan itu marah pada si B yang tidak mampu membayar sewa kebun lalu mengusirnya.

            Dari perumpamaan yang diceritakan Nabi Isa pada muridnya, dapat diambil pelajaran bahwa hidup harus punya ilmu, ilmu saja tidak cukup, harus diamalkan, lebih baik sedikit ilmu diamalkan daripada segudang teori tanpa praktek, hal ini sesuai dengan sindiran Allah dalam firman-Nya, ”Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak  kamu perbuat, amat besar kebencian disisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan”.

            Ayat ini merupakan peringatan kepada mereka yang banyak bicara tentang kebenaran Islam melalui seminar ke seminar, dari diskusi ke diskusi tapi tanpa mengamalkannya. Tidak luput disini teguran kepada da’i, mubaligh, ustadz serta penyandang tablihg lainnya. Segala disiplin ilmu Islam dia pandai bicarakan tapi tidak melakukan dengan berbagai alasan, orang yang demikian akan mendapat kebencian Allah dan menerima cemoohan dari manusia, lebih berbhaya dari itu ialah yang menutup kebenaran karena dia tidak melakukan, kita ambil contoh saya mengatakan bahwa jilbab/ pakaian menutup aurat yaitu pakaian menurut syariat Islam tidak wajib dengan sandaran karena keluarga saya tidak memakainya.

Walaupun "U" yang kita miliki adalah "U" lama tapi mereka sangat penting sekali untuk  merubah kehidupan beragama yang diawali dari pembinaan dan teladan pribadi, pembinaan keluarga dan masyarakatnya, biarlah "U" kita "U" lama tapi mereka bertitelkan Warasatul anbiya' yaitu pewaris para nabi, dari pada "U" baru yang membuat kerusakan di dunia ini, wallahu a'lam, [Cubadak Solok, Ramadhan 1431.H/ Agustus 2010.M]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar