Semua pekerjaan yang dilakukan manusia selama untuk
kebaikan adalah baik, tapi dari sekian pekerjaan itu ada pekerjaan yang mulia
dihadapan Allah yaitu berda'wah. Da'wah adalah pekerjaan yang paling tinggi
nilainya, da'wah adalah pekerjaan orang-orang pilihan yaitu nabi dan rasul maka
juru da'wah adalah orang yang mulia setelah nabi dan rasul karena mereka
melakukan pekerjaan rasul; "Siapakah yang lebih baik perkataannya
daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan
berkata: "Sesungguhnya Aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?"[Fushilat
41;33]
Rasulullah
bersabda; "Orang yang paling tinggi kedudukannya disisi Allah pada hari
kiamat adalah orang yang paling banyak berkeliling di muka bumi dengan memberi
nasehat kepada manusia" [HR. Thahawi]
Orang
yang menyampaikan da'wah disebut juga dengan da'i, buya, ustadz, mubaligh,
kiyai dan ulama, walaupun istilah tersebut tidaklah dapat disamakan, apalagi
ulama, yang kita kenal sebagai tokoh yang kharismatik, ilmunya luas, jamaahnya
banyak dan jam terbangnya sudah tak terhitung lagi, mereka adalah tokoh yang
aktif berda'wah, seniornya para da'i dan mubaligh.
Karena tugas da’wah dan amar ma’ruf nahi
mungkar itu diwajibkan bagi setiap orang islam, maka sejak Rasulullah meninggal
dunia tugas penyiaran islam berlanjut terus. Tugas itu dipikul dan dilaksanakan
oleh para sahabat nabi, dan setelah sahabat nabi meninggal dunia, tugas itu
dilanjutkan oleh para thabi’in dan thabi’it thabi’in sampai kepada para alim
ulama, ustadz dan mubaligh.
Tugas
da’wah itu beruntun terus, secara estafet dari masa ke masa, dari zaman ke
zaman, dimana ada orang islam, dimana seseorang telah menjadi muslim, ia harus
berda’wah dan beramar ma’ruf dan bernahi mungkar, sejak dari rasulullah hingga
para ulama sekarang ini.
Para
ulamalah yang menerima amanat, atau memikul amanat dari Allah dan Rasulullah
untuk melanjutkan da’wah dengan mengembangkan islam melalui ilmunya. Orang lain
berda’wah dengan hartanya, dengan tenaganya, dengan buah fikirannya tetapi para
ulama adalah orang yang berda’wah dengan ilmu, harta, tenaga, fikiran, jiwa dan
raganya, ”Sesungguhnya orang-orang yang
beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasul-Nya kemudian
mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada
jalan Allah, mereka itulah orang-orang yang benar imannya” [Al Hujurat
49;15].
Rasulullah
bersabda, ”Ulama-ulama ummatku adalah
sama derajatnya dengan nabi-nabi Bani Israil”. Jika ditakdirkan hadits ini
shahih, maka sesuailah artinya dengan maksud hadits yang menyatakan, ”Ulama itu adalah pewaris nabi”, bila
dikatakan bahwa ulama itu pewaris para nabi maka yang diwarisinya adalah
ilmunya. Bila ilmunya ulama adalah ilmunya para nabi maka tanggungjawab para
nabi pada umumnya adalah amar ma’ruf nahi mungkar kepada siapapun.
Tugas
seorang ulama, kiyai, ustdz, da’i dan juru da’wah atau mubaligh tidaklah ringan karena dia sebagai
obor dan teladan, tempat bertanya ummat dari segala persoalan dan tempat bersandar
dari kebimbangan, dia ibarat sang dokter.
Da'wah membawa para ulama kepada kehidupan
Rabbany yaitu kehidupan yang penuh dengan nilai-nilai Ilahi, mereka tercelup
pada kehidupan yang islami sehingga kehidupannya jauh dari hal-hal yang negatif
dan tercela, mereka adalah orang-orang yang selalu mengajak orang kepada agama
Allah dan mereka adalah orang-orang yang selalu mengajar melalui pembinaan
terhadap mad'unya namun tidak lupa
belajar untuk kepentingan peningkatan kualitas diri dan keluarganya;
"
Tidak wajar bagi seseorang manusia yang Allah berikan kepadanya Al kitab,
hikmah dan kenabian, lalu dia Berkata kepada manusia: "Hendaklah kamu
menjadi penyembah-penyembahku bukan penyembah Allah." akan tetapi (Dia
berkata): "Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani, Karena kamu selalu
mengajarkan Al Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya" [Ali
Imran 3;79]
Yang
dikatakan dengan Rabbani itu adalah orang yang selalu mengajar dan selalu
secara terus menerus belajar Al Qur'an;
"Sebaik-baik kamu adalah
orang yang mempelajari Al Qur'an dan mengajarinya" [HR. Bukhari dan
Muslim]
Banyak sarana yang dapat dipakai untuk
berda'wah diantaranya berupa tulisan yang tersaji dalam bentuk artikel atau
makalah, semua itu untuk nashrul fikrah [penyebaran ide-ide] yang islami
sekaligus mengantisipasi pemikiran-pemikiran yang berkembang tidak islami,
cendrung menyesatkan sehingga idiologi
seorang muslim terkontaminasi oleh segala isme yang diciptakan manusia. Sebuah
ungkapan mengatakan bahwa seorang muslim itu mempunyai dua kiblat, ketika
shalat kiblatnya jelas ke ka’bah tapi segala tindak tanduk diluar shalat mereka
berkiblat ke barat.
Allah
memberi tugas berat kepada siapa saja yang telah menyandang predikat muslim, da’i
dan ulama untuk meluruskan pandangan ummat agar bergerak bersama islam dan
berjalan menuju jalan Allah, dalam surat An Nahl 16;125 diterangkan, ”Ajaklah manusia itu ke jalan Tuhanmu
dengan hikmah dan pengajaran yang baik serta beragumentasilah dengan mereka
dengan cara yang baik pula”.
Rasulullah
menegaskan kepada ummatnya, ”Sampaikanlah
apa yang telah anda terima dariku meskipun hanya satu ayat”. Ini
menunjukkan betapa pentingnya da’wah demi keselamatan hidup manusia di dunia
hingga akherat. Bahkan seorang syaikh bernama Dr. Musthafa Mashur menyatakan, ”Nahnu Du’at qabla kulli syai’” artinya kami
adalah da’i sebelum menjadi sesuatu apapun.
Dari
masa ke masa keberadaan ulama di tengah masyarakat sangat besar artinya, mereka
diibaratkan, ”tongkat pemandu jalan di
siang hari, dan obor penerang dimalam hari”, mereka bukan saja ahli
dibidang agama, tetapi mereka adalah
kelompok yang terpanggil untuk memperbaiki masyarakat, menangkap aspirasi
mereka, merumuskan dalam bahasa yang dapat dipahami setiap orang serta siap menawarkan
strategi dan altenatif pemecahan masalah. Cukup jelas bahwa para nabi merupakan
mercusuar yang tertinggi tentang kesempurnaan kemanusiaan. Oleh sebab itu,
adakah suatu jabatan yang lebih mulia dan lebih tinggi yang melebihi para alim
ulama itu, yang telah ditetapkan sebagai pewaris pada nabi ? diterangkan dalam sebuah hadits , ”Akan ditimbang nanti tinta para alim
ulama dan darah para pahlawan-pahlawan yang mati syahid pada hari kiamat”.
Setiap
orang pasti mengerti bahwa darah yang dialirkan untuk membela agama Allah atau
fisabilillah adalah semahal-mahalnhya darah yang dikorbankan seorang manusia.
Maka jika tinta kaum ulama yang digunakan mengarang kitab-kitab untuk
kemanfaaan ummat manusia itu dapat menyamai darah orang yang matai syahid,
bahkan ada sebagian riwayat yang menerangkan bahwa tinta itu bahkan melebihi
nilainya, maka itulah suatu bukti yang jelas, sampai dimana islam memberikan
kedudukan yang amat utama dan tertinggi bagi para ulama.
Dahulu
ulama bagi masyarakat islam khususnya sebagai tepat bertanya berbagai persoalan
hidup, mereka tidak memandang asal ulama tersebut. Bagi mereka ulama adalah
milik ummat, bukan milik satu golongan sehingga berlakulah pa yang difatwakan
oleh seorang ulama diperbuat oleh masyaraka karena ulama tersebut menyampaikan
fatwa sesuai dengan kebenaran Al Qur’an dan Hadits, yaitu dua pusaka yang telah
ditinggalkan nabi, Rasulullah bersabda,
”Sekali-kali kamu tidak akan sesat selamanya bila kamu berpegang teguh dengan
dua hal yaitu Al Qur’an dan Sunnahku”.
Kini
bagi masyarakat islam khususnya, ulama bukan lagi tempat bertanya segala
persoalan hidup, bukan berarti ummat telah tahu jawaban segala persoalan. Hal
ini terjadi karena terlalu banyak ulama yang bertipe su’ artinya ulama jelek,
tidak sesuai dengan aspirasi ummat dan bertentangan dengan da’wah Rasulullah,
beliau telah mensinyalir adanya ulama yang jelek atau ulama yang jahat itu
dengan sabdanya, ”Celaka bagi ummatku,
akibat dari perbuatan ulama su”.
Perbuatan
jelek seseorang tidak seburuk akibat pada masyarakat bila dibandingkan dengan
perbuatan seorang ulama. Karena seorang ulama dipandang masyarakat sebagai
pemuka. Orang yang berada di depan bila mempunyai gerak perbuatan apa saja,
orang dibarisan belakang akan tahu. Tetapi sebaliknya, bila orang yang berada
dibarisan belakang berbuat sesuatu, orang depan sukar mengetahuinya, bila tiada
alat pengawas. Demikian pula perbuatan ulama. Gerak gerik dan tingkah laku
ulama cepat diketahui masyarakat, karean letak ulama di tengah-tengah
masyarakat bagaikan orang yang dibarisan depan, mudah dikenal dan diketahui
gerak-geriknya, ”Sejelek-jelek yang
paling jelek ialah ulama yang jelek, dan sebaik-baik dari yang paling baik
adalah ulama yang baik” [Hakim].
Tipe
mereka yang dapat dimasukkan dalam bentuk ulama jelek adalah; ulama pemberi
fatwa sesat, ulama yang membangun dinding fanatisme buta, ulama penyebar
fitnah, ulama tukang jilat dan ulama yang tergelincir kepada suatu perbuatan nista. Ali bin Abi Thalib
pernah berkata, ”Lihatlah apa yang
dibicarakan seseorang tapi jangan dilihat siapa yang berbicara”. Artinya
segala fatwa yang disampaikan kalau sesuai dengan ajaran Allah dan Rasul-Nya terimalah dan
amalkan. Jangan dilihat orang yang menyampaikannya, mungkin rumah tangganya
berantakan, mungkin dia hanya pandai berfatwa tapi enggan mengamalkan. Pada
satu sisi maksud ucapan Ali bin Abi Thalib baik tapi pada sisi lain ummat tidak
akan dapat menerima begitu saja karena bertentangan dengan kehendak Allah,
Allah mengancam para ulama, ”Hai
orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat ?
Amat besar kebencian Allah bahwa kamu mengatakan apa yang tiada kamu kerjakan”.[
Ash Shaf; 2-3].
Sejak
dahulu hingga kini terlalu banyak ulama yang dapat membenahi kehidupan
seseorang agar menjadi baik, dia memberi penerangan kepada orang lain sementara
dia dalam kegelapan, ibarat lilin, terang orang di sekitarnya tapi sang lilin terbakar, sibuk mengajak
orang, diri dan keluarga terabaikan, ”Mengapa
kamu suruh orang lain mengerjakan kebaikan, sedang kamu melupakan kewajiban
sendiri, padahal kamu membaca Al Kitab
[Taurat] ? Maka tidakkah kamu berfikir ?” [Al Baqarah 2;44].
Islam adalah agama Samawi yang diwahyukan Allah
melalui para Nabi dan Rasul yang sebelumnya disebut dengan Risalah Tauhid,
amanat terakhir dipikul oleh Nabi Muhammad untuk mengembangkan agama ini ke
seluruh dunia, Islam sebagai agama rahmat bagi seluruh alam. Perkembangan islam
selanjutnya hingga penyebaran da’wah mencapai seluruh penjuru dunia berkat ”amal
jama’i ” yaitu kerjasama yang solid dari ummat ini karena kesadaran diri
bahwa Islam bukanlah milik satu golongan manusia saja dan tidak bersifat lokal
tapi universal dengan target tidak semata-mata mencetak shaleh individu tapi
keshalehan kolektif.
Usaha itu dinamakan dengan da’wah
yang telah disponsori oleh rasul, para sahabat dan shalafus shaleh. Allah
menjelaskan tugas seorang mukmin adalah da’wah, mengajak manusia ke jalan-Nya
dengan minhaji [tersistim], ”Ajaklah
manusia ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik dan bantahlah
mereka dengan cara yang baik....” [An Nahl 16;125].
Untuk mengerjakan itu semua perlu
adanya kerja sama dan sama-sama bekerja demi tegaknya dienul islam di dunia ini
sebagai investasi amal kita untuk menemui Allah serta memenuhi kewajiban kita
sebagai muslim yang dituntut untuk bekerja semaksimal dan seoptimal mungkin.
Semuanya harus sesuai dengan tiga hal yaitu; niatnya harus ikhlas, termotivasi
hanya karena Allah, caranya harus sesuai yang dipraktekkan Rasulullah dan
tujuannya mencari mardhatillah [ridha Allah].
Demikian
pentingnya bekerjasama untuk mengujudkan ketinggian islam di dunia ini, sejarah
telah mencatat bahwa ketika ummat tidak bersatu, sibuk dengan kerja
masing-masing, tidak mau mengorganisir amal dalam barisan yang tersusun rapi,
saat itu tunggulah kehancurannya. memang masih panjang kerja para da’i untuk
mensosialisasikan amal jama’i apalagi da’i sendiripun enggan diajak untuk
bekerjasama membangun dan membina umat dalam sebuah wadah da’wah yang
terorganisir dengan solid, walaupun sebatas jama’ah minal muslimin untuk menuju
jamaah muslimin yang hanya berbenderakan satu khilafah, niscaya kejayaan islam
diambang pintu.
Para
da’i dan ulama atau siapa saja yang konsen dengan perjuangan menegakkan islam
di dunia ini, agar kerja tersebut dapat dilaksanakan dengan rapi perlu
mensolidkan da’wah yang kita miliki,
kadangkala kita memikirkan islam pada sekup berdirinya sebuah khilafah
yang akan memayungi ummat islam sementara konflik internal dalam jamaah da’wah
suli untuk diselesaikan sehingga memperlambatr dan menghambat gerak da’wah.
Cakar-cakaran
antara kita dalam sebuah tubuh lembaga da’wah memicu terbengkalainya kerja
besar yang sudah dirancang sejak zaman kenabian Rasulullah Saw. Jangankan untuk
mengurus ummat islam secara regional, nasional dan internasional sedangkan
dalam organisasi da’wahnya sendiri perlu keterlibatan pihak luar untuk
menyelesaikannya. Bila hal ini terjadi berarti kejayaan dan keberhasilan da’wah
jauh panggang dari pada api.
Salah
satu karakteristik da’wah itu mengatakan Islamiyyah qabla jam’iyah artinya
islamisasi dahulu sebelum organisasi, sebelum melibatkan orang dalam sebuah
lembaga, organisasi, apalagi lembaga da’wah perlu adanya takwin [pembentukan]
kader-kader yang militan untuk menempati struktur lembaga tadi. Tidak solidnya jama’ah
da’wah karena menerapkan terlebih dahulu prinsip yang terbalik yaitu Jam’iyah
qabla islamiyah, mengutamakan organisasi sebelum islamisasi.
Dari
sekian banyaknya ulama yang baik sebagai teladan dalam seluruh asfek
kehidupannya, ada pula ulama yang dikelompokkan jahat memiliki ciri khas yang
tidak sesuai dengan apa yang dicontohkan oleh Rasulullah, mereka itu punya
karakter yaitu;
1.Ulama Pemberi fatwa sesat yaitu
ulama yang memutar balikkan ajaran islam, mereka berfatwa menurut hawa nafsunya, menanamkan
sifat fanatik kepada guru dan menafsirkan ayat sesuai dengan keinginan sendiri.
2.Ulama Pembangun fanatisme yaitu ulama yang membangun Fanatik buta, mengajak masyarakatnya untuk
terlalu cinta kepada fahamnya saja sehingga tidak mau menerima faham orang
lain, dengan demikian akhirnya membentuk ajaran baru yang jauh dari nilai-nilai
luhur islam dari Rasulullah, siapa saja yang tidak mau menerima ajaran mereka
maka mereka mudah saja menuduh orang yang tidak dalam kelompoknya sesat dan
kafir.
3.Ulama Penyebar fitnah yaitu ulama telah keluar dari etika dan
akhlak sebagai muslim, terjadinya memfitnah karena pertentangan faham dan
golongan yang memicu kebencian kepada ulama lain, contoh; Muhammad Abduh
difitnah bahwa ketika dia meninggal lidahnya menjulur keluar satu hasta dan
Hasan Al Banna difitnah akan menggulingkan rezim Gamal Abdul Naser, lalu dia
dibunuh dan gerakannya Ikhwanul Muslimin dihancurkan, para ikhwan dipenjara
tanpa tahu pengadilannya.
4.Ulama Tukang jilat yaitu ulama yang mencari keuntungan
duniawi semata, biasanya yang dijilat; penguasa, atasan dan sponsor
sehingga fatwanya sesuai dengan pesan
sponsor. Bila pesan yang disampaikan tidak sesuai maka mereka takut dipecat
sehingga da'wah dan ceramah yang disampaikan adalah ucapan yang selalu
menyanjung para penguasa atau pemberi sponsor. Biasanya para penjilat itu
selalu menjilat kepada atasan dan itu belum selesai dan untuk menyenangkan
atasan maka sikap kedua adalah menginjak yang dibawahnya yang dapat menaikkan
popularitasnya.
5.Ulama yang rusak moralnya yaitu ulama yang sikapnya tidak beda
dengan orang kebanyakan, walaupun ibadahnya tetap baik dan khutbahnya tetap
menarik. Rasulullah bersabda: ''Ada seseorang yang bertanya kepada
Rasulullah,"Ya Rasulullah, siapakah sejelek-jelek ulama ?" Nabi
menjawab,"Ya Allah, ampunilah dosa kami, sejelek-jelek manusia itu adalah
ulama, apabila mereka itu telah rusak moralnya" [Ibnu Bathah].
6.Ulama yang tergelincir yaitu ulama yang sudah terlanjur melakukan
sesuatu diluar kewajaran seorang ulama, adapun sebab tergelincirnya ulama itu
diantaranya ; ajaran yang salah tafsir sehingga mengajak orang sesat dan
menyesatkan, karena malu mengakui
kekeliruan sehingga tetap dalam kekeliruannya hingga akhir hayat atau karena
tuntutan pribadinya seperti ingin jadi wali sehingga berserikat dengan jin,
ingin meraih jabatan sehingga menghalalkan segala cara.
Peringatan Rasulullah; "Janganlah
kamu duduk disisi setiap orang alim, kecuali orang alim yang mengajak kamu dari yang lima kepada yang
lima;
1. dari keraguan kepada keyakinan yang
benar
2. dari riya' kepada ikhlas
3. dari tamak kepada sederhana
4. dari sombong kepada tawadhu'
[merendahkan diri]
5. dari permusuhan kepada
kejujuran"
Demikian peringatan Rasulullah tentang
ulama yang layak dijadikan figur, sebagai teladan dalam hidup yang dicontoh
prilakunya, bila keluar dari itu maka sebaiknya jangan dekati ulama itu dan
segera cari ulama yang bertitel Warasatul anbiya' dapat kita baca dalam sejarah
tentang tentang Isa yang menceritakan suatu kisah dalam kitab Injil, yang
diriwayatkan oleh murid beliau bernama Barnabas.
Ada seorang manusia yang memiliki tiga kebun
anggur, dia menyewakan kepada ketiga orang petani, A, B,dan C. karena A tidak
mengetahui bercocok tanam kebun anggur, maka kebun itu hanya menghasilkan
dedaunan. B mengajarkan C bagaimana
cara menanam dan merawat anggur agar hasilnya baik. Ketika waktu telah datang
untuk membayar sewa kebun kepada yang punya kebun, yang A berkata kepada
tuannya, ”Tuan, aku tidak tahu bagaimana cara berkebun anggur, karena itu aku
tidak menghasilkan satupun buah-buahan tahun ini”, tuan itu menjawab,”Bodoh,
apa kamu tinggal sendirian di dunia ini, sehingga kamu tidak bisa minta nasehat
dari pemeliharaan kebun B dan C yang mengetahui bagaimana mengolah kebun
anggur. aki bat kelalaian si A akhirnya dia diusir dari kebun yang disewanya
itu.
Tuan tanah datang ke tempat B dengan
jawaban.”o, tuan, kebun engkau tidak menghasilkan apa-apa karena aku tidak
memotong pohon lainnya dan tidak pula menggemburkan tanahnya”, lalu tuan
memanggil si C dengan heran dia berkata, ”Hai C, kamu katakan kepadaku bahwa si
B telah mengajarmu dengan sempurna cara menanam kebun anggur yang aku sewakan
kepadamu. Kemudian bagaimana bisa jadi bahwa kebun anggur yang aku sewakan
kepada B tidak menghasilkan buah, padahal sesmuanya sebidang tanah?”.
dengan nada berhati-hati C
menjawab,”Tuan, anggur-anggur tidak ditanam dengan bicara saja, tapi harus
dengan memeras keringat, membanting tulang kalau mau hasil buah yang baik,
bagaimana akan hasilnya baik kalau dia hanya menghabiskan waktu dengan teori
dan cakap-cakap saja. Aku tidak banyak teori menanam anggur tapi teori yang
sedikit itu aku praktekkan sehingga mampu membayar sewa kebun tuan untuk dua
tahun mendatang”.Tuan itu marah pada si B yang tidak mampu membayar sewa kebun
lalu mengusirnya.
Dari perumpamaan yang diceritakan
Nabi Isa pada muridnya, dapat diambil pelajaran bahwa hidup harus punya ilmu,
ilmu saja tidak cukup, harus diamalkan, lebih baik sedikit ilmu diamalkan
daripada segudang teori tanpa praktek, hal ini sesuai dengan sindiran Allah
dalam firman-Nya, ”Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa
yang tidak kamu perbuat, amat besar
kebencian disisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan”.
Ayat ini merupakan peringatan kepada
mereka yang banyak bicara tentang kebenaran Islam melalui seminar ke seminar,
dari diskusi ke diskusi tapi tanpa mengamalkannya. Tidak luput disini teguran
kepada da’i, mubaligh, ustadz serta penyandang tablihg lainnya. Segala disiplin
ilmu Islam dia pandai bicarakan tapi tidak melakukan dengan berbagai alasan,
orang yang demikian akan mendapat kebencian Allah dan menerima cemoohan dari
manusia, lebih berbhaya dari itu ialah yang menutup kebenaran karena dia tidak
melakukan, kita ambil contoh saya mengatakan bahwa jilbab/ pakaian menutup
aurat yaitu pakaian menurut syariat Islam tidak wajib dengan sandaran karena
keluarga saya tidak memakainya.
Walaupun "U" yang kita miliki adalah "U" lama tapi
mereka sangat penting sekali untuk merubah kehidupan beragama yang diawali dari pembinaan
dan teladan pribadi, pembinaan keluarga dan masyarakatnya, biarlah
"U" kita "U" lama tapi mereka bertitelkan Warasatul anbiya'
yaitu pewaris para nabi, dari pada "U" baru yang membuat kerusakan di
dunia ini, wallahu a'lam, [Cubadak Solok, Ramadhan 1431.H/ Agustus 2010.M]

Tidak ada komentar:
Posting Komentar