Rabu, 10 Februari 2016

4. Kiyai



Ketika kita menyebut kata“Kiyai’’ maka yang  terbayang dibenak kita adalah seorang tokoh kharismatik, dengan sorban yang melilit di kepala yang berkopiah putih, jenggot yang dipelihara sebagai sunnah nabi dengan mengenakan pakaian gamis sehari-hariannya. Tutur katanya penuh dengan petuah dan nasehat agama yang didengarkan oleh ribuan muridnya pada sebuah pesantren, imannya jangan ditanya lagi tentang kualitas taqwa, amal ibadahnya tidak sedikit, malam dijadikan sebagai sarana untuk mendekatkan diri agar lebih dekat lagi kepada Allah,sikap dan makanannya terjaga dengan baik. Itulah gambaran kiayi yang selama ini muncul di benak kita, tapi nampaknya kiayai tidaklah semuanya sesuai dengan yang digambarkan diatas.

    Julukan atau sebutan Kiyai atau Kiai atau Kiyahi ( كياهي)  ) sering menjadi pertanyaan orang. Apa sebenarnya makna Kiyai itu. Dari mana asal muasal nama Kiyai itu. Dan apa sebenarnya ciri-ciri serta hal-hal yang harus dilakukan oleh para Kiyai. 

            Pertanyaan itu lebih mencuat lagi ketika orang-orang yang disebut Kiyai atau para Kiyai ada yang dinilai berbuat yang di luar jalur kebiasaan, misalnya ada yang  patut diduga sebagai provokator, ada yang jadi pengipas-ngipas suasana dengan memanasi anak buah untuk melawan terhadap lawan-lawan politik, ada yang memanas-manasi untuk mendukung Presiden Gus Dur / Abdurrahman Wahid karena presidennya dari golongan sang Kiyai itu, yaitu Nahdlatul Ulama dengan partainya PKB (Partai Kebangkitan Bangsa). Tidak jarang pula ada Kiyai yang suka kumpul-kumpul sesamanya, hingga disebut Kiyai khos (khusus) yang kaitannya erat dengan soal dukung mendukung terhadap kursi presiden yang sedang diduduki oleh golongannya.

    Tetapi di balik itu ada Kiyai dogdeng (kebal) yang suka sesumbar bahwa wadyabalanya rata-rata jadug (sakti, tidak mempan senjata tajam). Ada juga Kiyai yang dari zaman Orde Baru pimpinan Presiden Soehartosukanya mendekat-dekat dengan penguasa, bahkan pernah bersama-sama puluhan Kiyai dipimpin Nur Iskandar SQ menghadiahi emas beberapa kilogram kepada Presiden Soeharto dengan dalih untuk mengatasi krisis ekonomi/ moneter. Setelah para Kiyai itu sowan (hadir dengan penuh ketundukan) ke tempat Presiden Soeharto, justru tak lama kemudian sang Presiden dipaksa turun dengan didemonstrasi oleh puluhan ribu mahasiswa selama dua minggu, hingga ia menyatakan turun dari kursi kepresidenan 1998. 

            Di tengah perkembangan masyarakat Indonesia pada umumnya dijumpai beberapa gelar sebutan yang diperuntukkan bagi ulama. Misalnya, di daerah Jawa Barat (Sunda) orang menyebutnya Ajengan, di wilayah Sumatera Barat disebut Buya, di daerah Aceh dikenal dengan panggilan Teungku, di Sulawesi Selatan dipanggil dengan nama Tofanrita, di daerah Madura disebut dengan Nun atau Bendara yang disingkat Ra, dan di Lombok atau seputar daerah wilayah Nusa Tenggara orang memanggilnya dengan Tuan Guru.
   Khusus bagi masyarakat Jawa, gelar yang diperuntukkan bagi ulama anatara lain Wali. Gelar ini biasanya diberikan kepada  ulama yang sudah mencapai tingkat yang tinggi, memiliki kemampuan pribadi yang luar biasa. Sering pula para wali ini dipanggil dengan Sunan (Susuhunan), seperti halnya para raja. Gelar lainnya ialah Panembahan, yang diberikan kepada ulama yang lebih ditekankan pada aspek spiritual, juga menyangkut segi kesenioran, baik usia maupun nasab (keturunan). Hal ini untuk menunjukkan bahwa sang ulama tersebut mempunyai kekuatan spiritual yang tinggi. 

   Selain itu, terdapat sebutan Kiai, yang merupakan gelar kehormatan bagi para ulama pada umumnya. Oleh karena itu, sering dijumpai di pedesaan Jawa panggilan Ki Ageng atau Ki Ageng/ Ki Gede, juga Kiai Haji.[Kiyai Itu Apa?, Nahyi mungkar.com]

Berbeda dengan masyarakat Jawa, bagi masyarakat Banjar (Kalimantan Selatan), sebutan kyai sama sekali tak ada hubungannya dengan ulama, tetapi merupakan gelar bagi kepala distrik (jabatan setingkat wedana di Jawa). Sedangkan di Sumatera Barat, sebutan kyai dilekatkan kepada sosok etnis cina yang sudah tua (cino tuo), sama sekali tidak ada hubunganya dengan ulama dan sebagainya.

Saat ini, sebutan kyai yang banyak dijumpai adalah Kyai Maja, Kyai Langgeng, Kyai Kanjeng, Kyai Slamet, Kyai Sengkelat, Kyai Semar, Kyai Sapu Jagad, Kyai Petruk, Kyai Sadrach, dan sebagainya. Bahkan ada juga sebutan Kyai Cabul, Kyai Pajero, dan Kyai Liberal yang berkonotasi olok-olok terhadap sosok manusia penjual agama.

Dari bahan bacaan maupun kenyataan di masyarakat, sebutan kyai terbukti belum tentu sebagai julukan untuk orang yang alim agama dan akhlaqnya bagus.Bahkan ada yang berupa binatang atau benda.Sedang muatannya pun bermacam-macam.Ada yang baik, ada yang buruk, ada yang menuntun manusia kepada keimanan yang benar, ada yang menyebarkan kemaksiatan tapi seolah agamis, ada yang menyesatkan, dan bahkan ada yang murtad.Sehingga tidak mengherankan bila kelak di akherat isi neraka itu di antaranya adalah Kyai-kyai, bahkan ada yang kekal di neraka karena telah murtad dari Islam. Sedang julukan kyai-nya walaupun masih melekat namun sama sekali tidak ada nilainya apa-apa. Kecuali bagi kyai yang memang benar-benar beriman dan beramal shalih, maka tentu saja Allah tidak akan menyia-nyiakan kebaikannya yang dilandasi iman. Dan itu tercakup dalam ayat:
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka adalah surga Firdaus menjadi tempat tinggal,mereka kekal di dalamnya, mereka tidak ingin berpindah dari padanya.(QS Al-Kahfi/ 18: 107, 108).

Beriman di situ disyaratkan dengan tidak bercampur dengan kemusyrikan. Dalam pembahasan ini di antara kemusyrikan itu adalah menyembah kuburan dengan kedok ziarah ke kubur-kubur wali dan orang shaleh, dengan cara meminta kepada isi kubur sebagaimana difatwakan kemusyrikannya dalam fatwa di atas. Syarat iman tidak bercampur dengan kemusyrikan itu ditegaskan dalam Al-Qur’an:
‘Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS Al-An’am/ 6: 82). [Macam-macam Kyai, nahimunkar.com27 January 2011].

Di masyarakat, masih kental pengetahuan mereka bahwa kiyai itu adalah orang yang baik iman dan amalnya, tauhidnya tidak diragukan lagi, tapi di lapangan hal itu jauh sekali keadaannya, bahkan ada sebuah buku yang mengupas tentang kiayi yang bergelimang dengan kemusyrikan, pada hal syirik itu bertentangan dengan ajaran islam.

BukuKyai Kok Bergelimang Kemusyrikan ini mengandung makna, ada orang di barisan depan Ummat Islam tetapi bergelimang kemusyrikan. Padahal kemusyrikan adalah puncak kemunkaran, dosa terbesar yang tak diampuni Alloh Subhanahu wa Ta’ala bila sampai ajal tiba pelakunya belum bertaubat dengan sebenar-benarnya taubat yaitu taubatan nashuha.
Berbagai fenomena puncak-puncak kemunkaran, namun dilakoni bahkan dibela mati-matian oleh pemuka-pemuka agama di antaranya kyai, cendekiawan, tokoh dan sebagainya, ditampilkan di buku ini.

Pembahasannya menukik pada sesatnya Ahmadiyah,  Syi’ah, Pluralisme Agama, Syirik, Bid’ah, Kristenisasi, dan Kemunkaran.Juga buruknya pembelaan dari orang-orang yang sesat terhadap pelaku dan pengidap kesesatan.Jadi ada pengidap kesesatan, ada pula pembela-pembela kesesatan yang sekaligus juga pelaku kesesatan.
Buku ini cukup tajam dan mengena dalam menyoroti fenomena akhir-akhir ini di Indonesia, dimana  terjadi peristiwa yang meresahkan Ummat Islam, yaitu bertemunya para pengidap kesesatan dengan para pendukung kesesatan yang justru dengan ramai-ramai berani menantang kebenaran, walau kebenarannya sudah sangat jelas, dan kesesatannya pun nyata, seperti tentang sesatnya Ahmadiyah yang didirikan oleh Nabi Palsu Mirza Ghulam Ahmad (1835-1908M) di India.Sehinggabuku ini merupakan kumpulan dari puncak-puncak masalah yang meresahkan Ummat Islam.[BukuKyai Kok Bergelimang Kemusyrikan, Redaksi nahimunkar.com, 9 September 2008].

Kyai liberal pendukung porno sudah ada yang mati, sebagian orang pun bernafas lega.Namun kini ada yang muncul lagi.Walau tingkatnya local, namun keburukan yang dia hembuskan tampaknya berskala nasional.Sebagaimana kyai liberal yang sering menggunakan qiyas batil, kyai yang ini juga demikian.

 

Gus Amak menyayangkan pihak-pihak yang menentang pencalonan Julia Perez.Apalagi, penolakan itu semata-mata karena Julia Perez terkenal sebagai artis yang sering berpakaian seronok.Gus Amak mengimbau warga Pacitan tak terjebak pada penampilan fisik seseorang.

 

“Banyak orang yang mengenakan sorban dan berpakaian seperti ulama mencalonkan diri menjadi pemimpin.Namun, saat menjabat ulahnya tak mencerminkan seorang ulama,” kata Gus Amak saat ditemui di Pacitan, Jumat (2/4).(Metrotvnews.com).

 

Komentar sederhana pun dapat diarahkan kepada kyai ini.Perlu diingatkan, kenapa wanita berpakaian seronok tidak jadi masalah bagi kyai yang keblinger ini, tetapi orang mengenakan sorban justru dimasalahkan. Ini qiyas model apa?

 

Ya, memang lakon buruk ketika dilakukan orang bersorban jadi masalah.Tetapi bersorbannya sebelum bertingkah buruk itu tidak ada masalah.Berbeda dengan wanita berpakaian seronok, walau misalnya jadi dermawan sekalipun, tetaplah berpakaian seronoknya itu sudah jadi masalah. Karena Nabi shallalahu ;alaihi wa sallam bersabda:


 “Akan ada di akhir umatku orang-orang yang naik diatas pelana seperti layaknya orang-orang besar, mereka singgah di depan pintu-pintu masjid, wanita-wanita mereka berpakaian namun telanjang, di atas kepala mereka ada semacam punuk unta,laknatlah mereka karena sesungguhnya mereka itu terlaknat.” (HR. Ahmad,).
Syaikh Muhammad Ibnu Shalih Al Utsaimin rahimahullah menjelaskan: Memakai pakaian-pakaian yang ketat yang memperlihatkan tonjolan kecantikan wanita dan menampakkan keindahan tubuhnya adalah perbuatan haram, karena Nabi r bersabda :
Dua golongan orang yang merupakan calon pengisi neraka yang belum saya lihat mereka itu : Laki-laki yang memiliki cemeti/ cambuk bagaikan ekor sapi yang dengannya mereka memukuli orang, dan wanita-wanita yang kasiyat ‘ariyat (berpakaian tetapi telanjang) mailat mumilat (menyimpang dari kebenaran dan mengajak orang lain untuk menyimpang) (HR Muslim dan lainnya).

Sabdanya,” kasiyat ‘ariyat,” telah ditafsirkan:
1.Bahwa mereka itu berpakaian dengan pakaian pendek yang tidak menutupi aurat yang harus ditutup,
2.dan ditafsirkan bahwa mereka mengenakan pakaian tipis yang tidak menutupi kulitnya dari pandangan di baliknya,
3.dan ditafsirkan juga bahwa mereka mengenakan pakaian ketat yangmemang menutupi kulit dari pandangan namun tetap menampakan lekuk dan bentuk kemolekan tubuh wanita.
Oleh sebab itu tidak boleh bagi wanita mengenakan pakaian-pakaian ketat/sempit ini kecuali hanya di hadapan suaminya saja, karena di antara suami isteri tidak ada aurat, berdasarkan firman-Nya:
Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela (Al Mu’minun 5-6).

Apakah kyai pengasuh Pesantren Tremas di Pacitan Jawa Timur itu tidak pernah mengaji Al-Qur’an dan Hadits, atau memang sudah dia tinggalkan, tinggal mengikuti hawa nafsunya?[Astaghfirullah, Ada Kyai yang Mendukung Artis Porno, nahimunkar.com,4 April 2010].

Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Kudus menolak fatwa rokok haram. Mereka berusaha membawa masalah itu ke MUI Pusat yang akan membahas fatwa tersebut di Padang Panjang, Sumatera Barat, 24 Januari 2009 mendatang. ”Kami tetap memberi hukum mubah (diperbolehkan) untuk merokok,” tegas Ketua MUI Kudus KH Syafiq Nashan dalam jumpa pers di aula DPRD Kabupaten Kudus kemarin (17/1).
MUI Kudus, menurut Syafiq, akan berjuang untuk menghapus fatwa tersebut dari agenda pertemuan MUI di Padang Panjang itu. Jika tetap akan dibahas, MUI Kudus akan memperjuangkan maksimal fatwa adalah mubah.
Menurut dia, fatwa pengharaman rokok justru akan menimbulkan masalah baru, khususnya bagi daerah industri rokok seperti Kudus. Sebab, lebih dari 120 ribu warga Kudus bergantung kepada perusahaan rokok.“Aspek kemudaratan baru bagi masyarakat akan timbul.Sebab, jika rokok haram, mulai petani, pengusaha, karyawan, sampai pengonsumsi rokok akan dirugikan,” tambahnya.

Selain pertimbangan sosial, Syafiq menjelaskan masih adanya perbedaan pendapat soal hukum rokok di kalangan para ulama.“Para kiai itu sebagian besar perokok juga.Jadi, di tataran para kiai juga masih ada perbedaan,” urainya.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua DPC KSPSI Kudus H Moch As’ad menerangkan bahwa fatwa haram rokok merupakan ancaman serius bagi perusahaan rokok dan perekonomian. Sebab, dari hasil bea cukai, perusahaan rokok menjadi salah satu penyumbang terbesar devisa negara.“Untuk tahun 2009, hasil cukai rokok mencapai Rp 50 triliun. Jumlah itu akan disokong pula oleh Kabupaten Kudus yang menjadi salah satu sentral usaha rokok. Karena itu, jangan sampai rokok haram,” paparnya.

Dia mengharapkan MUI membatalkan rencana fatwa tersebut seiring dengan banyaknya desakan dari berbagai kalangan.Sebab, fatwa haram rokok itu bisa menimbulkan hukum ikutan.Yaitu, proses produksi dan penjualan rokok menjadi haram. Bagi MUI, rokok merupakan barang yang jelas bahayanya terutama bagi kesehatan. Namun, MUI menyadari, bila mengharamkan secara keseluruhan tentunya akan  menimbulkan permasalahan yang lebih besar.

Ketua Komnas Anak Seto Mulyadi meminta MUI untuk mengharamkan rokok.Sebab, dari segi kesehatan, rokok sangat membahayakan bagi tubuh manusia.Selain itu, hampir sebagian besar pengguna rokok adalah anak-anak. Asap rokok sendiri mengandung 4.000 bahan kimia, 43 diantaranya karsinogenik dan racun syarafnya sangat adiktif tiga kali lebih toksik dari arsenik.”.[Kyai Kok Berjuang untuk Rokok, nahimunkar.com, 20 January 2009].

            Kepribadian seorang kiyai seharusnya berbeda dengan masyarakat awam, amal-amal yang sunnah seharusnya dilakukan secara kontinyu, sedangkan amal yang makruh apalagi mendekati haram selayaknya ditinggalkan. Rokok memang masih menjadi perbedaan pendapat bagi para ulama dan kiyai tapi melihat banyaknya mudharat yang ada pada rokok maka sudah seharusnya rokok disepakati untuk ditinggalkan oleh para kiyai, jangankan untuk masyarakat awam yang meninggalkan rokok sedangkan kiyainya saja masih juga menyulut rokok setiap waktu, bahkan masjid penuh dengan asbak rokok karena tidak ada teladan dari para kiyai.
            Karena demikian lemahnya iman dan keteguhan hati para kiyai sehingga mereka mudah saja diadu domba oleh pihak-pihak tertentu, bukan hanya membela penyanyi porno dan membela kepentingan rokok tapi  juga adanya kiyai yang dijadikan kaki tangan oleh kepentingan Amerika dan kroninya.

Dr. Hidayat Nur Wahid. Ia mewanti-wanti agar mewaspadai ulama-ulama atau kyai-kyai palsu bentukan Amerika. Memang dalam rangka meredam aksi-aksi dan sentimen negatif Amerika di Indonesia, negeri Paman Sam ini banyak menguras koceknya untuk membeli ulama, menciptakan ulama palsu.Hal ini terungkap dari buku The CIA at War yang menguak program membeli ulama dan pemimpin Islam dalam menghadapi sentimen-sentimen anti Amerika di dunia Islam dan Arab. Dalam wawancara pengarang buku tersebut dengan George Tenet (Direktur CIA), ditegaskan bahwa Amerika menemukan ruang untuk melawan gelombang anti Amerika dengan cara menyuap para ulama atau kyai, menciptakan kyai palsu dan merekrut tokoh-tokoh agama Islam sebagai agen.

Amerika juga melakukan politik stick and carrot terhadap pesantren-pesantren. Pada 18-28 September 2002 lalu, Institute for Training and Development (ITD) sebuah lembaga Amerika mengundang 13 pesantren ‘pilihan’ (Dari Jawa, Madura, Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi) untuk berkunjung ke Amerika. Masing-masing juga mendapat bantuan USD 2000.

Amerika dan Australia juga membantu USD 250 juta dengan dalih mengembangkan pendidikan Indonesia. Padahal menurut sumber diplomat Australia yang dikutip The Australian(4/10/2003), sumbangan tersebut dimaksudkan untuk mengeliminir ‘madrasah-madrasah’ yang menghasilkan terorisme dan ulama yang membenci Barat.

“Memang ada sebagian pemimpin pesantren yang menganggap bahwa semua bantuan tersebut layak diterima asal kita tidak terpengaruh dengan kepentingan-kepentingan Amerika.Tapi yang saya lihat di kita masih ada budaya ewuh pakewuh dan sungkan.Jadi sulit bila kita menerima bantuan tanpa memberi imbalan balik sesuai kepentingan pemberi,” tandas Nur Wahid.

Maka pada 2003 lalu, 1000 ulama dan kyai berkumpul di Jakarta untuk menolak program bantuan tersebut, apalagi yang mensyaratkan perubahan kurikulum pesantren. “Semua sepakat untuk mewaspadai ulama atau kyai-kyai yang merupakan boneka-boneka Amerika untuk melemahkan tradisi pendidikan Islam dan nilai-nilai moral bangsa,” kata Hidayat Nur Wahid.[Awas Kyai Palsu Bentukan Amerika, nahimunkar.com, 2 July 2011].

Dengan kenyataan ini berarti ada persepsi yang salah terhadap makna kiyai, yang selama ini kita mengartikannya dengan ulama, orang yang luas agama dan kharismatik bahkan para ulama itu merupakan orang yang menerima warisan dari Nabi Saw.

Di kalangan masyarakat Jawa, ada dikenal sebutan atau gelar kehormatan yang ditujukan kepada ulama, yaitu Kyai.Namun demikian, gelar Kyai bukan satu-satunya sebutan penghormatan yang diberikan masyarakat Jawa kepada kaum ulama. Masih ada beberapa sebutan lain misalnya Wali, Sunan (Susuhunan) dan Panembahan.

Seiring berjalannya waktu, terutama ketika terjadi nasionalisasi istilah-istilah jawa di masa Orde Baru, sebutan Kyai juga ditempelkan kepada ulama non Jawa, padahal di setiap daerah, sebelumnya sudah eksis sebutan khas untuk para ulama seperti Ajengan untuk masyarakat Jawa Barat, Buya untuk masyarakat Sumatera Barat, Tengku untuk masyarakat Aceh.

Sedangkan di kalangan masyarakat Sulawesi Selatan gelar kehormatan yang diberikan kepada kaum ulamanya adalah Tofanrita.Untuk masyarakat Madura dikenal sebutan Nun atau Bendara (biasa disingkat Ra).Di kalangan masyarakat Nusatenggara seperti Lombok dikenal sebutan Tuan Guru.Hampir mirip dengan di Lombok, masyarakat Betawi biasa menyebut ulamanya dengan sebutan Guru, tapi sebutan ini pada akhirnya kalah pamor dibandingkan dengan sebutan Kyai dan Habaib.

Faktanya, sebutan Kyai tidak selalu menunjuk kepada seseorang (atau sekelompok orang) yang benar-benar telah mengerti Agama Islam dengan segala cabangnya; atau menunjuk kepada Guru Agama Islam yang luas pandangannya.Ada sebutan Kyai yang ditujukan kepada kalangan pendidik tingkat nasional (sekuler) –biasanya disingkat menjadi Ki– misalnya Ki Hajar Dewantara.Ada juga sebutan Kyai atau Ki yang ditujukan kepada sekelompok orang yang mahir mendalang, seperti Ki Dalang.Bahkan makna Kyai atau Ki juga menunjuk kepada sekelompok orang yang menjalankan profesi perdukunan yang tergolong musyrik.Jadi, makna Kyai memang tidak selalu tertuju kepada ulama agama Islam yang luas ilmu pengetahuannya.

Di Kalimantan Selatan (Banjarmasin dan sekitarnya), sebutan Kyai pada masa sebelum perang kemerdekaan menunjuk kepada seseorang yang menduduki jabatan setingkat Wedana (District-hoofd).Dalam istilah sekarang Wedana setara dengan Walikota. Sedangkan di Padang, juga pada masa sebelum perang kemerdekaan, sebutan Kyai berarti Cino Tuo, yaitu orang Cina yang telah berusia lanjut.[Kyai Belum Tentu Ulama, nahimunkar.com,6 April 2008].

            Bahkan sebenarnya dalam terminology islam tidak ada istilah kiyai itu, yang ada hanya ulama, da’i dan mubaligh, yaitu orang yang mendapat amanah untuk menyampaikan da’wah islamiyyah kepada ummat manusia melanjutkan risalah yang dibawa Nabi Muhammad, jadi janganlah kita terkecoh dengan sebutan kiyai karena setiap kiyai itu belum tentu ulama dan tidak semua ulama diberi sebutan kiyai, wallahu a’lam [Cubadak Solok, 22 Juli 2011.M/20 Sya’ban 1432.H].










3. Dakwah



Seorang mukmin dituntut untuk menyampaikan risalah islam ini semampunya yang kita kenal dengan da'wah, bahkan Rasulullah bersabda, ”Sampaikan apa yang engkau peroleh dariku meskipun satu ayat”.

            Ceramah atau tabligh  bukanlah segala-galanya, dia merupakan bagian awal dari da’wah melalui fase-fase yang rapi, tidaklah disebut da’wah bila hanya mengandalkan ceramah atau tabligh saja,  seorang da’i seharusnya menguasai marhalah atau fase-fase dalam da’wah sehingga dalam waktu yang ditargetkan dapat melahirkan syakhsiyah islamiyyah yaitu pribadi islam yang militansinya dapat diandalkan untuk mengasung da’wah ini bersama jajaran da’i lainnya; ”Kamu adalah ummat  terbaik yang dikeluarkan dikalangan manusia, karena memerintahkan kepada yang ma’ruf dan mencegah dari perbuatan mungkar, dan beriman kepada Allah” [Ali Imran 3;110].

            Suatu hari Anas bin Nadhar kacewa karena dia tidak ikut  dalam perang Badar, padahal saat itu kemenangan dipihak ummat islam, yang dia sesalkan bukan kemenangan itu, tapi dalam kemenangan itu tidak ada kontribusinya.  Dari realitas keberhasilan da’wah islam itu, adakah keterlibatan kita sebagai mubaligh di dalamnya atau hanya kita sibuk dengan ceramah tanpa melakukan pembinaan, da’wah bukanlah ceramah saja tapi adalah pembinaan walaupun didalamnya tidak bisa dilepaskan metode ceramah.

Dalam rangka mengembangkan sayap da’wah ke tengah masyarakat sehingga da’wah itu betul-betul mereka rasakan, banyak sarana yang dapat dipakai diantaranya berupa tulisan yang tersaji dalam bentuk artikel atau makalah, semua itu untuk nashrul fikrah [penyebaran ide-ide] yang islami sekaligus mengantisipasi pemikiran-pemikiran yang berkembang tidak islami, cendrung menyesatkan  sehingga idiologi seorang muslim terkontaminasi oleh segala isme yang diciptakan manusia. Sebuah ungkapan mengatakan bahwa seorang muslim itu mempunyai dua kiblat, ketika shalat kiblatnya jelas ke ka’bah tapi segala tindak tanduk diluar shalat mereka berkiblat ke barat.

            Allah memberi tugas berat kepada siapa saja yang telah menyandang predikat muslim dan da’i untuk meluruskan pandangan ummat agar berberak bersama islam dan berjalan menuju jalan Allah, dalam surat An Nahl 16;125 diterangkan, ”Ajaklah manusia itu ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik serta beragumentasilah dengan mereka dengan cara yang baik pula”.

            Rasulullah menegaskan kepada ummatnya, ”Sampaikanlah apa yang telah anda terima dariku meskipun hanya satu ayat”. Ini menunjukkan betapa pentingnya da’wah demi keselamatan hidup manusia di dunia hingga akherat. Bahkan seorang syaikh bernama Dr. Musthafa Mashur menyatakan, ”Nahnu Du’at qabla kulli syai’” artinya kami adalah da’i sebelum menjadi sesuatu apapun.

Ketika berda'wah kita juga harus berhati-hati karena makna da'wah itu asalnya adalah mengajak, kalau mengajak tentu dengan cara yang santun agar orang mau untuk mengikuti ajakan kita; "Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk." [An Nahl 16;125].

Suatu ketika cucu Rasulullah yang bernama Hasan dan Husen menyaksikan seorang nenek yang sedang berwudhu, namun wuhdu'nya tidaklah sesuai dengan apa yang diajarkan oleh Rasulullah, untuk menegur nenek ini tentu suatu hal mustahil, maka mereka mendatangi nenek itu pada waktu yang lain sambil pura-pura bertengkar, sang nenek berperan sebagai penengah. Mereka mengatakan bahwa setiap berwudhu' selalu ribut karena masing-masing saling menyalahkan, Hasan menyatakan bahwa cara wudhu'nya yang baik dan sebaliknya Husen juga mengaku dialah yang   paling benar. Akhirnya secara bergiliran keduanya memperagakan kemampuannya berwudhu' sedangkan sang nenek bertindak sebagai juri. Ketika keduanya sudah menampilkan praktek berwudhu' di hadapan sang nenek, lansung sang nenek menangis dan mengatakan bahwa kedua cucu Rasul itu bagus dan benar cara wudhu'nya sedangkan nenek yang salah, mulai saat itu sang nenek memperbaiki cara berwudhu'nya.

                Pada suatu hari Rasulullah kedatangan seorang tamu dari pegunungan, dia datang lansung masuk masjid dan buang air kecil di pojok masjid itu, melihat hal demikian sahabat pada marah, ada yang akan menebas kepalanya, ada pula yang menawarkan diri untuk mengusir orang itu dari masjid, semuanya marah melihat kelakuan pemuda pegunungan itu. Rasulullah lalu mengambil seember air dan menyiram bekas pipis itu kemudian mendekatinya dan bertanya,"Apa yang anda lakukan dan anda mau kemana". Pemuda itu mengatkan bahwa dia sedang mencari seorang Nabi bernama Muhammad, maka berkenalanlah dia dengan Rasul terus menyatakan diri sebagai muslim.

Ketika akan kembali ke desanya sang pemuda itu berdo'a,"Ya Allah kini saya sudah bertemu dengan nabi-Mu dan saya telah sebagai muslim, ya Allah masukkanlah saya dan Muhammad ke dalam syurga-Mu, sedangkan yang marah-marah tadi jangan".

Allah berfirman dalam surat Ali Imran 3;159, ”Maka disebabkan rahmat Allah dan karena Allahlah kamu berlaku  lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap kasar lagi keras, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itulah maafkan mereka, mohonlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya’.

Da'wah mengandung keutamaan, tidak satupun pekerjaan yang lebih baik di dunia ini selain pekerjaan da'wah, keutamaan da'wah itu diantaranya;

1.Merupakan nikmat Allah terbesar kepada manusia
            Diantara nikmat yang diberikan Allah ialah nikmat iman atau hidayah yang diperoleh dari perjuangan da'wah, Rasulullah bersabda; "Dan seandainya Allah memberi petunjuk kepada seseorang dengan sebab engkau, maka itu lebih baik bagimu daripada apa yang dijangkau matahari sejak terbit hingga terbenam" [HR. Bukhari Muslim]
            Tanpa da'wah maka tidaklah akan sampai iman dan islam kepada kita pada hari ini dan tentu kita masih dalam keadaan kafir, begitu besar nikmat da'wah itu sehingga mampu melepaskan orang dari kekafiran dan mengantarkan pengikutnya ke dalam syurga.

2.Da'wah itu pekerjaan para Nabi
            Apapun pekerjaan yang dilakukan manusia maka hal itu biasa, tapi pekerjaan da'wah  adalah pekerjaan yang luar biasa karena ini merupakan pekerjaan para nabi, da'i meneruskan pekerjaan nabi ini hingga hari akhir, alangkah mulianya kita bila mengemban pekerjaan para nabi; "Dia Telah mensyari'atkan bagi kamu tentang agama apa yang Telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang Telah kami wahyukan kepadamu dan apa yang Telah kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya. amat berat bagi orang-orang musyrik agama yang kamu seru mereka kepadanya. Allah menarik kepada agama itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada (agama)-Nya orang yang kembali (kepada-Nya). [Asy Syura 42;13]

3.Pekerjaan yang paling mulia disisi Allah
            Semua pekerjaan yang dilakukan manusia selama untuk kebaikan adalah baik, tapi dari sekian pekerjaan itu ada pekerjaan yang mulia dihadapan Allah yaitu berda'wah. Da'wah adalah pekerjaan yang paling tinggi nilainya, da'wah adalah pekerjaan orang-orang piihan yaitu nabi dan rasul maka juru da'wah adalah orang yang mulia setelah nabi dan rasul karena mereka melakukan pekerjaan rasul; "Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: "Sesungguhnya Aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?"[Fushilat 41;33]

            Rasulullah bersabda; "Orang yang paling tinggi kedudukannya disisi Allah pada hari kiamat adalah orang yang paling banyak berkeliling di muka bumi dengan memberi nasehat kepada manusia" [HR. Thahawi]

4.Membawa du'at kepada kehidupan Rabbany
            Da'wah membawa para da'i kepada kehidupan Rabbany yaitu kehidupan yang penuh dengan nilai-nilai Ilahi, mereka tercelup pada kehidupan yang islami sehingga kehidupannya jauh dari hal-hal yang negatif dan tercela, mereka adalah orang-orang yang selalu mengajak orang kepada agama Allah dan mereka adalah orang-orang yang selalu mengajar melalui pembinaan terhadap mad'unya namun  tidak lupa belajar untuk kepentingan peningkatan kualitas diri dan keluarganya;

" Tidak wajar bagi seseorang manusia yang Allah berikan kepadanya Al kitab, hikmah dan kenabian, lalu dia Berkata kepada manusia: "Hendaklah kamu menjadi penyembah-penyembahku bukan penyembah Allah." akan tetapi (Dia berkata): "Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani, Karena kamu selalu mengajarkan Al Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya" [Ali Imran 3;79]
Yang dikatakan dengan Rabbani itu adalah orang yang selalu mengajar dan selalu secara terus menerus belajar Al Qur'an; "Sebaik-baik kamu adalah orang yang mempelajari Al Qur'an dan mengajarinya" [HR. Bukhari dan Muslim]

5.Membahagiakan hidup para pendukungnya
            Orang yang hidup dalam naungan da'wah islamiyah hidupnya akan tentram, jauh dari gundah gulana apalagi stres sebagaimana yang difirman Allah dalam surat An Nahl 16;97 "Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, Maka Sesungguhnya akan kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan Sesungguhnya akan kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang Telah mereka kerjakan"
            Kebahagiaan hidup para da'i terletak di hati, tidak akan dirasakan melainkan oleh orang-orang yang terliibat di dalamnya.

            Da’wah memang tidak akan selesai oleh seorang da’i saja, tapi ada tidak peran kita di dalamnya karena da’wah memang seperti bola salju, dia akan bergulir kencang kebawah, semakin lama semakin membesar dan menggulung siapa saja, tapi ada tidak peran mubaligh di dalamnya yang selama ini sering tampil di mibar-mimbar  tapi melalaikan kaderisasi dalam da’wah, silahkan sibukkan diri dalam tabligh apa saja tapi jangan lupakan takwin yaitu pembinaan ummat walaupun hanya satu orang, Rasulullah bersabda,”Seandainya Allah memberi petunjuk kepada seseorang dengan sebab engkau, maka itu lebih baik  bagimu daripada apa yang dijangkau matahari sejak terbit hingga terbenam”

Obyek pertama dari da’wah ialah rumah tangga sebagaimana Nabi mempraktekkan kepada isteri dan anaknya serta kepada budak dan orang yang dibawah tanggungjawabnya. Setelah itu baru tingakat lebih tinggi yaitu kerabat dekat atau masyarakat. Dalam menyampaikan da’wah kepada keluarga banyak mengalami kesulitan baik itu isteri atau anak sendiri sehingga banyak da’i yang mundur dari gelanggang da’wah di tengah masyarakat karena dia tidak mampu membina serta mengarahkan keluarganya, apalah artinya keberhasilan da’wah di masyarakat sementara keluarga terbengkalai, sang da’i ini mengalami tekanan psikologis, sementara anak dan isteri sebagai penentang utama sebagaimana yang dialami Nabi Nuh yang ditentang anaknya sendiri, Nabi Luth tidak diikuti oleh isterinya, Nabi Muhammad yang ditentang pamannya. 

            Da’wah yang paling berat yaitu di rumah tangga, mampukah seorang ayah mengajak anak dan isterinya untuk menciptakan keluarga muslim atau isteri membawa suami dan anaknya menjalankan perintah Allah atau anak dengan ilmu yang dimilikinya meluruskan langkah orangtuanya. Bila usaha ini telah dilakukan dengan sungguh-sungguh sebenarnya telah terlepaslah kewajiban perorangan di hadapan Allah dalam menjalankan amar ma’ruf nahyi mungkar.

            Akan tetapi dalam masyarakat kita rasa jemu ini telah menjalar, sekali dua kali ucapan ayah tidak diladeni isteri dan anaknya dia biarkan saja lagi, sudah sekian kali isteri mengajak suami dan anaknya untuk melakukan amaliah ibadah akhirnya luntur tidak pernah terdengar lagi, dengan nada keras anakpun mempropagandakan syurga kepada orangtuanya tapi tetap diacuhkan. Semua peristiwa diatas akhirnya mengalami kebosanan pada masing-masing pribadi, akhirnya anak, isteri atau suami melakukan perbuatan tercela tidak lagi digubris, karena dianggap segala nasehat telah cukup.

            Seorang da’i yang demikian, mudah putus asa, jiwanya pesimis maka tidaklah berhasil da’wahnya, sebenarnya Allahpun tidaklah melihat hasil yang diperoleh tapi kesungguhan dalam usaha. Bila betul-betul dengan kesungguhan serta kemampuan telah dikerahkan, tanpa ada rasa bosan mengajak walaupun gagal maka Allah tidak akan mencela bahkan dicatat sebagai amal yang patut dipuji, karena masalah hdiayah dan kesadaran agama disamping diusahakan juga karena hidayah dan kuasa Allah.

            Seorang anak baru saja tamat dari perguruan Islam dengan bekal ilmu agama yang cukup mapan ditambah pula dengan ilmu pengetahuan umum lainnya. Problem utama yang akan dihadapi adalah keluarganya. Tentu saja ilmu yang telah diterimanya akan diterapkan dalam keluarga yang keislamannya masih dilapisi oleh khurafat, tahyul, bid’wah dan syirik. Ketegasan si anak dalam hal ini tetap akan ditentang oleh orangtuanya karena di hati orangtua telah berkarat ajaran yang dilapisi tradisi berhala. Ketika anak berkata kepada orangtuanya tentang islam yang sebenarnya sesuai dengan ajaran Al Qur’an dan Hadits akan ditolak dengan ucapan, ”Nak ini ajaran nenek moyang kita dahulu, kamu belum tahu karena masih kecil, kan baru kemaren tamat sekolah”, pasti tantangan pertama adalah keluraga.

            Dalam menyampaikan kebenaran pada kelompok ramai atau masyarakat tidaklah begitu sulit dan sedikit resiko atau beban mentalnya tetapi untuk keluarga sendiri terlalu banyak kendala apalagi merombak suatu tradisi, memang bicara kebenaran dalam keluarga akan ditentang oleh anak dan isteri. Orang lain mudah tersentuh dengan dalil dan ajakan dari seseorang, tapi untuk menyentuh hati anak dan isteri terlalu sulit sebagaimana sebuah riwayat yang terjadi di masa Khalifah Umar bin Khattab dan hal ini memang terjadi pada diri beliau sendiri.

            Pada suatu hari seorang sahabat ingin datang kepada Umar mengadukan peristiwa dia dengan keluarganya yaitu sang isteri yang tidak bisa dibentuk atau diarahkan ke jalan yang benar, pertengkaran selalu terjadi dalam rumah tangga. Kalaulah satu minggu ada tujuh hari, hanya satu hari saja adanya gencatan senjata [damai]. Dia datang dengan maksud minta nasehat Umar, bagaimana atau resep apa yang bagus untuk mengatasi hal itu.

            Baru saja dia sampai di pintu gerbang rumah Umar, dia dikejutkan oleh keributan dalam rumah tersebut. Jelas betul bahwa keributan itu dialami oleh Umar dan isterinya, dia perhatikan agak lama akhirnya mengambil kesimpulan untuk mengurungkan niatnya kembali saja pulang. Rupanya Umar melihat tamu di luar yang akan pulang, dipanggilnya tamu itu dipersilahkan masuk serta terjadilah dialoq, ”Maksud kedatangan saya yaitu ingin minta nasehat Amirul Mukminin untuk keluarga kami, saya begitu sulit memberikan kebenaran dan menunjukkan isteri saya, sehingga sering dalam rumah terjadi pertikaian pendapat yang diakhiri dengan pertengkaran. Tapi setelah sampai disini saya melihat dalam rumah khalifah seperti apa yang saya alami, sehingga saya batalkan maksud saya”.

             Mendengar keluhan sahabatnya itu Umar menjawab, ”Saya memang orang yan ditakuti dalam masyarakat, orang segan kepada saya, tetapi setelah berada di rumah maka saya adalah orang yang lemah, keluarga saya terutama isteri tidak akut dan segan kepada saya, kita senasib ya sahabat”.

            Itulah sebuah gambaran bahwa keperkasaan seorang suami, kehebatannya di masyarakat belum tentu perkasa dan hebat dalam rumah tangga untuk menyampaikan misi da’wahnya. Tantangan ini selalu hadir dan dihadapi oleh da’i atau mubaligh, penentang misinya kebanyakan adalah orang yang dicintainya serta lebih dekat dengannya. Apakah seorang da’i tersebut akan tetap berda’wah  atau mundur karena dia tidak mampu membina keluarganya. Tidaklah demikian sebagaimana dengan nabi Nuh bersama kaumnya walaupun anaknya sendiri menentang, bagaimana nabi Ibrahim meskipun dimusuhi oleh ayahnya sendiri dan bagaimana dengan nabi Muhammad yang selalu dikejar bahkan nyaris dibunuh oleh Abu Lahab seorang pamannya, orang yang dekat denganya yang seharusnya menerima dukungan dan pembelaan.

Tugas seorang da’i dimanapun dia berada harus berda’wah walaupun di Lembaga legislatif, eksekutif ataupun yudikatif. Tentu dengan cara dan sistim yang berbeda dari sebelumnya, walaupun hari ini mereka sebagai anggota dewan tapi sejak dahulu tugas mulia yang diembannya sebagai da’i tidak bisa dilupakan. Boleh saja sang da’i berhenti di dewan  tapi tugas dakwahnya tidak boleh berhenti.

Mimbar dewan sangat efektif untuk menyuarakan hati nurani rakyat melalui pandangan umum anggota atau penyampaian pendapat akhir fraksi, sidang-sidang komisi, gabungan komisi, kunjungan kerja menjadi sebuah peluang untuk menyampaikan kebenaran secara universal. Bagaimana anggota dewan bisa meminimalisir bahkan menyetop pengeluaran dana untuk kepentingan yang tidak/belum bermanfaat karena banyak kebutuhan yang belum terperhatikan yang semuanya membutuhkan biaya.

Pendistribusian dana untuk kepentingan umat dapat terarah dengan baik jika anggota dewan resfon terhadap kepentingan masyarakatnya seperti pendidikan yang membutuhkan dana tidak sedikit sementara mutunya anjlok. Begitu juga untuk biaya kesehatan menghindari ancaman kematian bayi dan ibu hamil, penghayatan dan pengamalan ajaran agama di tengah masyarakat dan sejuta problematika masyarakat yang sulit dilukiskan.

Da’i yang komitmen dengan nilai-nilai dakwah yang dia bawa, maka kehadirannya di dewan yang utama adalah dakwah, baik melalui ucapan atau tingkah laku. Prilaku moralis dan agamis yang ditampilkan oleh seorang anggota dewan membuat orang simpati dengan partai yang dia tumpangi. Sebaliknya demikian pula seorang da’i yang bertentangan cara berfikir, bertindak dan ucapannya di tengah masyarakat akan merugikan dakwah dan partai.

Hal yang sangat sensitif di dewan itu adalah masalah uang dan main uang, umumnya pada saat pemilihan Kepala Daerah dan Laporan Pertanggung Jawaban [LPJ] Kepala Daerah. Mengingat pembahasannya menyangkut uang, sang Kepala Daerah setelah menyerahkan uang untuk menggolkan maksudnya dia harus mencari kembali proyek yang bisa mengembalikan uang hilangnya itu. Sayangnya juga mengimbas pada anggota dewan yang identitasnya adalah da’i atau ulama yang selama ini dia berteriak bahwa money politic itu haram, tapi nyatanya dikala dia kebagian tidak terdengar suaranya lagi.

Artinya banyak da’i yang telah menghalalkan uang riba di Bank, membolehkan sogok menyogok, manipulasi kwitansi dianggap wajar dan segudang kerusakan moral lainnya. Hal itu terjadi ketika sang da’i atau ulama ada di dewan. Lalu mana lagi yang akan diikuti oleh ummat kalau tokoh agamanya sendiri saja sudah rusak begitu ? Komitmen keislaman sang da’i diuji ketika duduk dimana  saja sama apalagi tempat yang rawan terjadi gelimang uang dan harta, mungkin sebagai anggota legislatif, eksekutif atau yudikatif. Karena memang ujian dunia itu selain kekuasaan, wanita dan juga harta.

Namun dari sekian banyak prilaku negatif anggota dewan yang berstatus da’i, masih ada di antara mereka yang tidak larut di dalamnya. Bahkan ada yang sejak berada di dewan, dia telah mengkampanyekan bahwa money politic itu sebuah pembodohan terhadap rakyat dan bertentangan dengan hati nurani, adat dan agama sehingga dalam pemilihan Kepala Daerah dan setiap pembahasan LPJ Kepala Daerah tidak mengeluarkan sepeserpun   uang untuk itu. Sementara di tempat lain ada informasi dua orang anggota dewan di Jawa Barat ketika diketahui rekeningnya sudah membengkak masing-masing  dengan tambahan setengah miliar rupiah, lalu uang itu dibagikan pada masyarakat yang membutuhkan. Wallahu a'lam [Cubadak Solok, 18 Ramadhan 1431.H/ 28 Agustus 2010]