Jum'at itu,
seorang mubaligh akan menyampaikan khutbahnya, di papan pengumuman masjid Al
Jihad Metro Lampung tertera seorang mubaligh muda bernama Kadaryono, seorang
pemuda bahkan masih remaja, ketika itu saya masih sekolah di SMP, sang khatib
belajar di PGAN Metro, dengan penampilan sederhana, tutur kata yang runut,
lembut lagi santun, bahasanya faseh dalam menyampaikan sajian Al Qur'an dan
Hadits membuat saya terpana dan kagum, walaupun materi yang disampaikan saya sudah
lupa, tapi kesan bangga dan senang membuat saya punyai ik'tikad, cita-cita,
keinginan tampil seperti ustadz muda
itu, azam ini memerlukan kesungguhan dengan menempa diri melalui berbagai
training sehingga dengan inayah dan hidayah Allah terujud.
Keinginan itu
juga didorong kuat oleh figur seorang mubalig yang sering saya dengarkan
taujihnya pada mimbar-mimbar khutbah dan pengajian, seorang da'i, ustadz senior
pada waktu itu bernama Mahfud Siddiq, ilmunya yang dalam, kesantunannya dalam
bersikap, lemah lembutnya dalam berda'wah bahkan kesederhaannya membuat
simpatik kepadanya, hal itu membuat saya banyak berinteraksi dengan para
mubaligh seperti Ustadz Masnuni M Ra'i, Al Fuadi Rusli, Hayumi Rabidin, bahkan
ketika kembali ke Sumatera Barat interaksi tadi terjalin pula dengan ustadz
Mahyeldi, Syafwan Nawawi, M, Yasin, Muslim M Yatim dan yang lainnya, benar kata
pepatah, kalau bergaul dengan ustadz, paling tidak pandai membaca bismillah
tapi kalau bergaul dengan penjahat, pasti tahu bagaimana mencongkel pintu
orang.
Mubaligh
kadangkala disebut juga dengan da'i, juru da'wah, ustadz, buya, kiyai bahkan
ulama, walaupun kesemuanya mempunyai perbedaan dan ada nilai spesifiknya tapi
intinya mereka adalah orang yang terpanggil untuk berkewajiban menyebarkan risalah
islam ini kepada ummat.
Allah memberi tugas berat kepada siapa
saja yang telah menyandang predikat muslim dan da’i untuk meluruskan pandangan
ummat agar berberak bersama islam dan berjalan menuju jalan Allah, dalam surat
An Nahl 16;125 diterangkan;
”Ajaklah
manusia itu ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik serta
beragumentasilah dengan mereka dengan cara yang baik pula”.
Rasulullah menegaskan kepada
ummatnya, ”Sampaikanlah apa yang telah
anda terima dariku meskipun hanya satu ayat”. Ini menunjukkan betapa
pentingnya da’wah demi keselamatan hidup manusia di dunia hingga akherat.
Bahkan seorang syaikh bernama Dr. Musthafa Mashur menyatakan, ”Nahnu Du’at qabla kulli syai’” artinya kami
adalah da’i sebelum menjadi sesuatu apapun.
Ketika Rasulullah wafat setelah
menyampaikan ajaran islam selama lebih kurang 23 tahun dengan segala suka dan
duka dengan segala pengorbanan, maka tanggungjawab da’wah selanjutnya dipikul
oleh ummat beliau yang disebut dengan da’i, mubaligh, ustadz atau ulama sebagai
penerus estafet perjuangan agama islam. Kewajiban ini dipikul sebagai amanat
dari Allah dan Rasulullah yang termaktub dalam Al Qur’an dan Hadts, Allah
berfirman, ”Serulah manusia kepada jalan
Tuhanmu dengan hikmah dan berilah nasehat yang baik dan bantahlah mereka dengan
cara yang baik...” [An Nahl 16;125].
Misi
da’wah seorang da’i adalah mengajak seluruh manusia ke jalan kebenaran, tidak
dibenarkan seorang da’i mengajak orang kepada organisasinya atau kepartainya,
tapi ke jalan Tuhanmu, yaitu jalan Allah. Karakteristik da’wah menyatakan, ”Islamiyyah qabla jam’iyah” artinya
da’wah itu berorientasi kepada mengajak orang untuk mengamalkan islam,
menjadikan seseorang sebagai pribadi muslim yang militan, mengislamkan dahulu
pribadi manusia setelah itu terserah akan ditempatkan diorganisasi atau lembaga
mana. sekarang ini terbalik menjadi ”Jam’iyyah
qabla islamiyyah” mendahulukan
orang untuk masuk ke sebuah organisasi, yayasan atau partai sesuatu, setelah
itu baru diberi pelajaran islam, setelah itu baru akan dipaksakan untuk
mengamalkan islam, sehingga terkesan organisasi, yayasan dan partai dengan
simbol islam tapi jauh dari nilai-nilai islam, karena langkah awalnya telah
jauh melenceng dari koridor da’wah.
Ajakan,
seruan yang disampaikan harus pula sesuai dengan prinsip da’wah yaitu dengan
hikmah dan bijaksana. Bahkan bila memberi nasehat dan berdebatpun dengan
argumentasi yang baik pula, menyentuh dan tidak menyinggung, mengajak bukan menghukum agar siapapun siap menerima
da’wah dengan penuh kesadaran dan senang hati. Allah berfirman, ”Kamu adalah ummat yang terbaik yang
dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang
mungkar, dan beriman kepada Allah...” [Ali Imran 3;110].
Karena
tugas da’wah dan amar ma’ruf nahi mungkar itu diwajibkan bagi setiap orang
islam, maka sejak Rasulullah meninggal dunia tugas penyiaran islam berlanjut
terus. Tugas itu dipikul dan dilaksanakan oleh para sahabat nabi, dan setelah
sahabat nabi meninggal dunia, tugas itu dilanjutkan oleh para thabi’in dan
thabi’it thabi’in sampai kepada para alim ulama, ustadz dan mubaligh.
Tugas
da’wah itu beruntun terus, secara estafet dari masa ke masa, dari zaman ke
zaman, dimana ada orang islam, dimana seseorang telah menjadi muslim, ia harus
berda’wah dan beramar ma’ruf dan bernahi mungkar, sejak dari rasulullah hingga
para ulama sekarang ini.
Para juru da’wah tidak boleh bertindak serampangan
dalam perjuangan menyampaikan da’wah melainkan dengan mempergunakan rasio yang
sehat, sebagaimana seorang dokter dalam menghadapi fasiennya, dokter hanya
mengobati penyakitnya dan bukan menyakiti fasiennya. Karena itu dalam mengobati
ini, fasien diberikan nasehat dan layanan yang dengan sikap ramah tamah, dokter
menunjukkan rasa kasih sayang terhadapnya. Kendatipun dokter terpaksa
memberikan obat yang pahit atau terpaksa melakukan operasi dengan melukai tubuh
fasien bahkan memotongnya, namun semua itu dikerjakan demi menolong fasien
bukan membinasakannya karena itu suntikan bukan tujuannya menyakiti fasien,
tetapi mengobati fasien.
Kehidupan
seorang juru da’wah disorot oleh masyarakat baik pribadinya maupun kehidupan
keluarganya sehingga ada juru da’wah yang berhasil di masyarakat tapi gagal di
keluarga dan beruntunglah mereka yang dapat memperoleh sukses di keduanya.KH.M.
Isya Anshari dalam bukunya ”Mujahid Da’wah” berbicara kepada
para da’i, ”Ke dalam saudara hendak
menciptakan rumah tangga bahagia, hubungan yang harmonis antara suami isteri,
yang penuh mawaddah dan rahmah, penuh cinta dan kasih sayang, saudara hendak
membuat jannah dalam rumah tangga. Keluar saudara bertugas hendak menyebarkan
cita dan agama, membimbing masyarakat ke tingkat tujuan menuju kemajuan dan
peradaban. Menciptakan keseimbangan, harmonis dan selaras antara kedua tugas
itu adalah kesenian luhur.
Jika tidak memiliki kesenian dan kebijaksanaan, salah
satu akan menjadi korban. Ada pemimpin kenamaan, mubaligh ulung, katanya
didengar, fatwanya dipatuhi, akan tetapi rumah tangganya kacau, tak ada
pimpinan, sepi tak ada kendali. Sengketa rumah tangga antara suami [mubaligh]
dengan sang isteri kerap terjadi, menjadi urusan orang lain. Ada orang penting,
ilmunya banyak, pengetahuannya luas. Akan tetapi dalam rumah tangga dia dibawah
dominasi isterinya, tidak boleh bergerak keluar, kakinya diikat dan mulutnya
disumbat, isterinya telah menjadi ’tuhan’ yang kedua baginya. Dia terima
dominasi itu, karena dia sangat cinta kepada isterinya. Neo kolonialisme format
kecil. Ilmu yang luas dan pengetahuan yang banyak tidak bermanfaat dan berguna
bagi masyarakat. Dia malah terasing dari kegiatan masyarakat.
Ada pula isteri dan suami, sama-sama orang penting.
Isterinya jadi ibu masyarakat dan suaminya jadi bapak masyarakat, suami menjadi
mubaligh dan isterinya menjadi mubalighah. Sama-sama laku, suami diundang ke
Barat dan sang isteri diundang kesebelah Timur. Suami kembali isteri masih
tourne, dan suami sudah tidak ada barulah isteri pulang. Rumah tangga sepi, anak tidak
mendapat bimbingan, makanan suami dilayani semata-mata oleh babu, pembantu
rumah tangga, itu bukan rumah tangga tapi hotel atau pesenggerahan tempat pelancong”.
Khusus di bulan Ramadhan mubalighpun jam terbangnya
cukup padat, jarang berada di rumah, siang dengan kegiatan pesantren kilat,
subuh dengan kuliahnhya dan malam dengan ceramah Ramadhan, bergiliran ke setiap
masjid dan mushalla sehingga tidak ada waktu yang kosong, seolah-olah nampak benar mujahadahnya dalam da’wah pada
bulan ini, terpanggil oleh ayat Allah,”Ajaklah
manusia ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan nasehat yang baik dan berdiskusilah
dengan mereka dengan argumentasi yang baik pula” [An Nahl 16;125] juga
termotivasi oleh seruan sabda Rasulullah, ‘‘Sampaikanlah
apa yang kau peroleh dariku meskipun satu ayat”.
Dua bulan
bahkan satu tahun sebelumnya ada masjid yang sudah menyusun jadwa Ramadhan,
khawatir tidak kebagian ustadz yang tergolong kondang dan laris, sang
mubalighpun jauh sebelum Ramadhan sudah penuh jadwalnya untuk manggung di
sekian masjid dengan tarif yang beragam tapi lumayan.
Ironinya, oknum mubaligh
ada yang membuat lembaran jadwal ceramah sampai tiga lembar dan penuh
ketiganya, bagaimana caranya dia membagi waktu dan tampil pada waktu dan malam yang sama dari
tiga masjid yang berbeda jarak dan tarifnya. Ada
memang masjid karena sangat membutuhkan sang ustadz, mereka rela ceramah Ramadhan setelah shalat tarawih menunggu giliran
ustadz dari masjid lain yang jadwal ceramahnya menjelang tarawih, dimana ketika
itu shalat tarawihnya sang da’i, oh mungkin saja di rumah atau nanti malam
setelah selesai semua jadwal ceramah,
apakah tidak lelah dan mengantuk, ah shalat tarawihkan sunnah, tidak wajib
kenapa dipermasalahkan.
Ada
yang mengatakan bahwa da’i dan mubaligh itu jauh berbeda dari segi aktivitas
dan motivasi da’wahnya, sang da’i adalah orang yang melakukan perjalanan
da’wah, semakin jauh da’wah dia lakukan maka semakin tipis kantongnya,
sedangkan mubaligh adalah orang yang melakukan perjalanan da’wah , semakin jauh
dia mendapat undangan semakin tebal kantongnya.
Bahkan ada oknum
mubaligh sebelum menerima tawaran untuk ceramah dia pasang tarif dan target
dengan jumlah lumayan dan tidak sedikit pula dikala amplop yang diberikan
tipis, tidak memadai menurut mubaligh tersebut, dia kembalikan dan atau minta
tambahan dan tidak akan datang bila diundang lagi. Inilah oknum-oknum mubaligh
yang bertebaran disetiap masjid dikala Ramadhan, bahkan mereka telah menjadikan
da’wah sebagai mata pencaharian untuk menumpuk kekayaan, terlontar dari
bibirnya dikala Ramadhan datang,”Ahlan
wasahlan syahrur Ramadhan, bulan penuh berkah dan bulan panen”.
Bukan kita tidak setuju,
bila pengurus masjid memberikan amplop untuk transportasi seorang da’i, itu
wajar dan boleh-boleh saja, tapi janganlah seorang da’i telah menjadikan medan
tabligh sebagai sarana untuk mencari keuntungan, ya ibarat kita ke sawah, niat
hati mencangkul sawah untuk ditanami padi, namun disela-sela mencangkul itu
kita temukan belut, tentu diambil. Tapi janganlah niat kita mencari belut,
tentu akan rusak sawah. Bersihkanlah ladang dari ilalang, ketika ditemukan
belalang tidak salah kalau kita memungutnya, jangan niatnya mencari belalang,
tentu ladang akan berantakan.
Kita butuh benar siraman rohani seorang mubaligh saat
kuliah subuh dan pengajian Ramadhan yang merupakan rangkaian dari “ihya
ramadhan” menghidupkan dan menyemarakkan bulan Ramadhan. Pengurus masjid
janganlah mengundang mubaligh yang mempermasalahkan materi [honor], padahal
seorang da’i itu harus tampil prima menyampaikan da’wahnya tanpa terganggu
besar kecilnya amplop karena mereka harus punya kepribadian “Qaadirun ‘alal
kasbi” dia harus mampu mencari nafkah dan tidak menyandarkan kebutuhan rumah
tangganya dari amplop yang dia terima.
Demikian pula halnya
pengurus pengajian, tidak sembarangan mengundang ustadz, pelajari dahulu
pribadinya, keluarganya dan aplikasi kehidupan yang islami. Walaupun ceramah
seorang mubaligh memukau, dapatkah kita terima sementara isteri dan anak
perempuannya mengumbar aurat, dia hanya sibuk ceramah untuk orang lain, tapi
untuk diri dan keluarganya tidak terbenahi sehingga keluar ungkapan , ”Pengajian ini untuk anda dan amplopnya
untuk saya”.
Masih banyak kita
saksikan mubaligh yang makan dan minum dengan tangan kiri, rokok jadi
konsumsinya sehari-hari, canda dan tawa yang cendrung ma’siyat, mubaligh model
inikah yang bisa kita tumpangkan kemajuan islam kepadanya ?. dengan
lantang dia mengatakan, ”Pengajian saya silahkan dengar tapi
kelakuan saya jangan ditiru”, apakah mereka tidak tahu kalau peringatan
Allah itu sangat keras, ”Hai orang-orang
yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat ? amat besar
kebencian disisi Allah bahwa kamu
mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan” [Ash Shaffat 61;2-3]
Target da’wah secara umum yaitu
terciptanya fardhul muslim, pribadi-pribadi yang komit dengan nilai-nilai islam
serta siap untuk memperjuangkan kebenaran ini. Mereka adalah pribadi yang ”Salamatul fikrah” yaitu pemikiran yang tidak terkontaminasi oleh isme
yang jahiliyyah. ”Shahihul ibadah”
yaitu ibadah yang hanya mengacu kepada sunnah Rasulullah, ”Salimul Aqidah” artinya aqidah yang bersih dari syirik, nifaq
dan fasiq, dan ”Mathinul Khuluq”
yaitu akhlak yang solid yang menjadikan Rasulullah sebagai teladannya, itulah
seharusnya yang dikerjakan oleh da'i dengan mengerahkan segala daya dan
upayanya yang diawali dari pribadinya, keluarga hingga masyarakatnya, hal-hal
yang haram pasti kita tinggalkan tapi bagi seorang mubaligh dia berupaya untuk
meninggalkan hal yang makruh karena memang ujud kesempurnaan seseorang kata
Rasulullah ialah meninggalkan hal-hal yang tidak ada manfaatnya, seperti rokok.
Di
tahun 1994, saya pernah mengikuti muzakarah
du’at [diskusi para da’i] se Sumatera dan Jakarta di Pesantren Darul Ulum
Sakatiga Palembang Sumatera Selatan yang dihadiri oleh 70 orang, dari sejumlah
itu hanya dua orang ustadz yang merokok. Tahun 2000 saya mengikuti pula Muzakarah Ulama Nasional di Medan yang
diikuti oleh 200 orang peserta, hanya satu orang yang merokok. Selama dalam
arena muzakarah, da’i yang masih merokok tadi walaupun cukup tersiksa karena
tidak bebas mengisap rokoknya punya azzam [tekad] untuk meninggalkan rokok
setelah muzakarah selesai, tapi dia akui realisasinya sulit sekali.
Dalam
sebuah perjalanan tahun 1997 saya menumpang dengan mobil seorang anggota DPRD
dari fraksi TNI. Hampir empatpuluh lima
menit kami asik berbincang-bincang tentang berbagai hal, sampailah dia
menawarkan rokoknya kepada saya, dengan halus saya tolak sambil mengatakan,”Maaf pak, saya tidak merokok”, mendengar
jawaban itu spontan dia menyambut,”Bagus sekali saudara tidak merokok dan itu
baik, tapi sayang saya tidak mampu meninggalkannya”.
Demikian
kuatnya candu rokok mengikat manusia, sejak dari masyarakat awam, militer,
anggota dewan sampai seorang yang berstatus ustadz, da’i dan ulama banyak yang
terjerat oleh barang makruh ini dan itu sudah bertahun-tahun memenjarakannya sehingga wajar mungkin ucapan
seloroh keluar dari bibirnya, ”Putus
cinta biasa tapi kalau putus rokok pusing kepala”. Walaupun tentang hukum
rokok ini ulama berbeda pendapat, mayoritas menyatakan makruh walaupun ulama di
Pakistan sudah mengharamkannya, paling tidak sungguh banyak mudharatnya bagi
kehidupan manusia, orang yang baik dia selalu menghindari segala hal yang
mendatangkan mudharatnya termasuk rokok bahkan salah satu kenapa hidayah Allah
tidak masuk kepada seseorang karena dia
masih merokok.
Sebenarnya ceramah, tabligh, khutbah dan
pengajian belumlah akhir dari da'wah, sebab sedikit sekali efeknya pada
perubahan sikap mental seseorang, dalam sejarah islam kita lihat Rasulullah
tidak begitu sering tampil di hadapan
umum untuk ceramah, beliau lebih
inten dalam halaqah, komunitas tertentu untuk menciptakan kader-kader yang
punya militansi tinggi.
Ceramah atau tabligh bukanlah segala-galanya, dia merupakan bagian
awal dari da’wah melalui fase-fase yang rapi, tidaklah disebut da’wah bila
hanya mengandalkan ceramah atau tabligh saja,
seorang da’i seharusnya menguasai marhalah atau fase-fase dalam da’wah
sehingga dalam waktu yang ditargetkan dapat melahirkan syakhsiyah islamiyyah
yaitu pribadi islam yang militansinya dapat diandalkan untuk mengasung da’wah
ini bersama jajaran da’i lainnya, ”Kamu adalah ummat terbaik yang dikeluarkan dikalangan manusia,
karena memerintahkan kepada yang ma’ruf dan mencegah dari perbuatan mungkar,
dan beriman kepada Allah” [Ali
Imran 3;110].
Tidak
sedikit orang yang disebut dengan da’i, jam terbangnya padat, sibuk memberikan
ceramah di masjid-masjid bahkan jarang pulang karena da’wah dipercayakan
kepadanya, tapi saat ditanya tentang berapa orang kader yang sudah dia cetak,
siapa orang yang karena dia mendapat hidayah Allah, siapa mad’u atau obyek
da’wahnya yang dapat diandalkan loyalitasnya kepada Allah semata, maka dia
mulai berfikir bahwa selama ini memang
tidak pernah melakukan demikian sehingga wajar ketika da’wah semarak di
masjid-masjid, di mushalla, media massapun ikut serta meramaikan bulan Ramadhan
ini, tapi ma’siyat semakin menjadi-jadi, seolah-olah tidak ada da’wah disekitar
semaraknya bulan Ramadhan.
Suatu
hari Anas bin Nadhar kacewa
karena dia tidak ikut dalam perang
Badar, padahal saat itu kemenangan dipihak ummat islam, yang dia sesalkan bukan
kemenangan itu, tapi dalam kemenangan itu tidak ada kontribusinya. Demikian
pula halnya untuk saat ini sudah banyak putri-putri islam yang mengenakan
jilbab, remaj dan pemuda mengkaji serta siap mengamalkan islam bahkan mereka
cendrung disebut kaum fundamentalis, dibeberapa daerahpun ummat islam sudah
siap menerapkan syariat islam untuk kepentingan kehidupannya.
Dari
realitas keberhasilan da’wah islam itu, adakah keterlibatan kita sebagai
mubaligh di dalamnya atau hanya kiga sibuk dengan ceramah Ramadhana sekali
setahun tanpa melakukan pembinaan, da’wah bukanlah ceramah saja tapi adalah
pembinaan walaupun didalamnya tidak bisa dilepaskan metode ceramah.
Kerja
seorang da’i, bila hanya tabligh saja sehingga memadatkan kesibukannya, siang
dan malam memenuhi undangan ceramah, memang tidak salah, tapi janganlah
terlena, siap kader yang menggantikan anda kelak sehingga da’wah itu
berkesinambungan dari satu generasi ke generasi berikutnya, tidak terputus
estafet perjuangan da’wah karena wafatnya seorang da’i.
Inilah
kekhawatiran seorang nabi yang bernama Zakaria dalam munajadnya, ”Ya
Tuhanku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah dipenuhi uban,
dan aku belum pernah kecewa dalam berdo’a kepada kepada Engkau, ya Tuhanku. Dan sesungguhnya aku khawatir
terhadap mawaliku sepeninggalku, sedang isteriku adalah seorang yang mandul,
maka anugerahilah aku dari sisi Engkau
seorang putera, yang akan mewarisi aku dan mewarisi sebagian keluarga Ya’kub,
dan jadikanlah ia, ya Tuhanku seorang yang diridhai” [Maryam 19;4-6].
Da’wah
memang tidak akan selesai oleh seorang da’i saja, tapi ada tidak peran kita di
dalamnya karena da’wah memang seperti bola salju, dia akan bergulir kencang
kebawah, semakin lama semakin membesar dan menggulung siapa saja, tapi ada
tidak peran mubaligh di dalamnya yang selama ini sering tampil di mimbar-mimbarmasjid
, tapi melalaikan kaderisasi dalam da’wah, silahkan sibukkan diri dalam tabligh
apa saja tapi jangan lupakan takwin yaitu pembinaan ummat walaupun hanya satu
orang, Rasulullah bersabda,”Seandainya Allah memberi petunjuk kepada
seseorang dengan sebab engkau, maka itu lebih baik bagimu daripada apa yang dijangkau matahari
sejak terbit hingga terbenam”
wallahu a'lam. [Cubadak Solok, Ramadhan 1431.H/ Agustus 2010.M].

Tidak ada komentar:
Posting Komentar