Rabu, 10 Februari 2016

1. Mubaligh



Jum'at itu, seorang mubaligh akan menyampaikan khutbahnya, di papan pengumuman masjid Al Jihad Metro Lampung tertera seorang mubaligh muda bernama Kadaryono, seorang pemuda bahkan masih remaja, ketika itu saya masih sekolah di SMP, sang khatib belajar di PGAN Metro, dengan penampilan sederhana, tutur kata yang runut, lembut lagi santun, bahasanya faseh dalam menyampaikan sajian Al Qur'an dan Hadits membuat saya terpana dan kagum, walaupun materi yang disampaikan saya sudah lupa, tapi kesan bangga dan senang membuat saya punyai ik'tikad, cita-cita, keinginan  tampil seperti ustadz muda itu, azam ini memerlukan kesungguhan dengan menempa diri melalui berbagai training sehingga dengan inayah dan hidayah Allah terujud.

            Keinginan itu juga didorong kuat oleh figur seorang mubalig yang sering saya dengarkan taujihnya pada mimbar-mimbar khutbah dan pengajian, seorang da'i, ustadz senior pada waktu itu bernama Mahfud Siddiq, ilmunya yang dalam, kesantunannya dalam bersikap, lemah lembutnya dalam berda'wah bahkan kesederhaannya membuat simpatik kepadanya, hal itu membuat saya banyak berinteraksi dengan para mubaligh seperti Ustadz Masnuni M Ra'i, Al Fuadi Rusli, Hayumi Rabidin, bahkan ketika kembali ke Sumatera Barat interaksi tadi terjalin pula dengan ustadz Mahyeldi, Syafwan Nawawi, M, Yasin, Muslim M Yatim dan yang lainnya, benar kata pepatah, kalau bergaul dengan ustadz, paling tidak pandai membaca bismillah tapi kalau bergaul dengan penjahat, pasti tahu bagaimana mencongkel pintu orang.

            Mubaligh kadangkala disebut juga dengan da'i, juru da'wah, ustadz, buya, kiyai bahkan ulama, walaupun kesemuanya mempunyai perbedaan dan ada nilai spesifiknya tapi intinya mereka adalah orang yang terpanggil untuk berkewajiban menyebarkan risalah islam ini kepada ummat. 

Allah memberi tugas berat kepada siapa saja yang telah menyandang predikat muslim dan da’i untuk meluruskan pandangan ummat agar berberak bersama islam dan berjalan menuju jalan Allah, dalam surat An Nahl 16;125 diterangkan;

”Ajaklah manusia itu ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik serta beragumentasilah dengan mereka dengan cara yang baik pula”.

            Rasulullah menegaskan kepada ummatnya, ”Sampaikanlah apa yang telah anda terima dariku meskipun hanya satu ayat”. Ini menunjukkan betapa pentingnya da’wah demi keselamatan hidup manusia di dunia hingga akherat. Bahkan seorang syaikh bernama Dr. Musthafa Mashur menyatakan, ”Nahnu Du’at qabla kulli syai’” artinya kami adalah da’i sebelum menjadi sesuatu apapun.

Ketika Rasulullah wafat setelah menyampaikan ajaran islam selama lebih kurang 23 tahun dengan segala suka dan duka dengan segala pengorbanan, maka tanggungjawab da’wah selanjutnya dipikul oleh ummat beliau yang disebut dengan da’i, mubaligh, ustadz atau ulama sebagai penerus estafet perjuangan agama islam. Kewajiban ini dipikul sebagai amanat dari Allah dan Rasulullah yang termaktub dalam Al Qur’an dan Hadts, Allah berfirman, ”Serulah manusia kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan berilah nasehat yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik...” [An Nahl 16;125].

            Misi da’wah seorang da’i adalah mengajak seluruh manusia ke jalan kebenaran, tidak dibenarkan seorang da’i mengajak orang kepada organisasinya atau kepartainya, tapi ke jalan Tuhanmu, yaitu jalan Allah. Karakteristik da’wah menyatakan, ”Islamiyyah qabla jam’iyah” artinya da’wah itu berorientasi kepada mengajak orang untuk mengamalkan islam, menjadikan seseorang sebagai pribadi muslim yang militan, mengislamkan dahulu pribadi manusia setelah itu terserah akan ditempatkan diorganisasi atau lembaga mana. sekarang ini terbalik menjadi ”Jam’iyyah     qabla islamiyyah” mendahulukan orang untuk masuk ke sebuah organisasi, yayasan atau partai sesuatu, setelah itu baru diberi pelajaran islam, setelah itu baru akan dipaksakan untuk mengamalkan islam, sehingga terkesan organisasi, yayasan dan partai dengan simbol islam tapi jauh dari nilai-nilai islam, karena langkah awalnya telah jauh melenceng dari koridor da’wah.

            Ajakan, seruan yang disampaikan harus pula sesuai dengan prinsip da’wah yaitu dengan hikmah dan bijaksana. Bahkan bila memberi nasehat dan berdebatpun dengan argumentasi yang baik pula, menyentuh dan tidak menyinggung, mengajak  bukan menghukum agar siapapun siap menerima da’wah dengan penuh kesadaran dan senang hati. Allah berfirman, ”Kamu adalah ummat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah...” [Ali Imran 3;110].

            Karena tugas da’wah dan amar ma’ruf nahi mungkar itu diwajibkan bagi setiap orang islam, maka sejak Rasulullah meninggal dunia tugas penyiaran islam berlanjut terus. Tugas itu dipikul dan dilaksanakan oleh para sahabat nabi, dan setelah sahabat nabi meninggal dunia, tugas itu dilanjutkan oleh para thabi’in dan thabi’it thabi’in sampai kepada para alim ulama, ustadz dan mubaligh.

            Tugas da’wah itu beruntun terus, secara estafet dari masa ke masa, dari zaman ke zaman, dimana ada orang islam, dimana seseorang telah menjadi muslim, ia harus berda’wah dan beramar ma’ruf dan bernahi mungkar, sejak dari rasulullah hingga para ulama sekarang ini.

Para juru da’wah tidak boleh bertindak serampangan dalam perjuangan menyampaikan da’wah melainkan dengan mempergunakan rasio yang sehat, sebagaimana seorang dokter dalam menghadapi fasiennya, dokter hanya mengobati penyakitnya dan bukan menyakiti fasiennya. Karena itu dalam mengobati ini, fasien diberikan nasehat dan layanan yang dengan sikap ramah tamah, dokter menunjukkan rasa kasih sayang terhadapnya. Kendatipun dokter terpaksa memberikan obat yang pahit atau terpaksa melakukan operasi dengan melukai tubuh fasien bahkan memotongnya, namun semua itu dikerjakan demi menolong fasien bukan membinasakannya karena itu suntikan bukan tujuannya menyakiti fasien, tetapi mengobati fasien.

            Kehidupan seorang juru da’wah disorot oleh masyarakat baik pribadinya maupun kehidupan keluarganya sehingga ada juru da’wah yang berhasil di masyarakat tapi gagal di keluarga dan beruntunglah mereka yang dapat memperoleh sukses di keduanya.KH.M. Isya Anshari dalam bukunya ”Mujahid Da’wah” berbicara kepada para da’i, ”Ke dalam saudara hendak menciptakan rumah tangga bahagia, hubungan yang harmonis antara suami isteri, yang penuh mawaddah dan rahmah, penuh cinta dan kasih sayang, saudara hendak membuat jannah dalam rumah tangga. Keluar saudara bertugas hendak menyebarkan cita dan agama, membimbing masyarakat ke tingkat tujuan menuju kemajuan dan peradaban. Menciptakan keseimbangan, harmonis dan selaras antara kedua tugas itu adalah kesenian luhur.

            Jika tidak memiliki kesenian dan kebijaksanaan, salah satu akan menjadi korban. Ada pemimpin kenamaan, mubaligh ulung, katanya didengar, fatwanya dipatuhi, akan tetapi rumah tangganya kacau, tak ada pimpinan, sepi tak ada kendali. Sengketa rumah tangga antara suami [mubaligh] dengan sang isteri kerap terjadi, menjadi urusan orang lain. Ada orang penting, ilmunya banyak, pengetahuannya luas. Akan tetapi dalam rumah tangga dia dibawah dominasi isterinya, tidak boleh bergerak keluar, kakinya diikat dan mulutnya disumbat, isterinya telah menjadi ’tuhan’ yang kedua baginya. Dia terima dominasi itu, karena dia sangat cinta kepada isterinya. Neo kolonialisme format kecil. Ilmu yang luas dan pengetahuan yang banyak tidak bermanfaat dan berguna bagi masyarakat. Dia malah terasing dari kegiatan masyarakat.

            Ada pula isteri dan suami, sama-sama orang penting. Isterinya jadi ibu masyarakat dan suaminya jadi bapak masyarakat, suami menjadi mubaligh dan isterinya menjadi mubalighah. Sama-sama laku, suami diundang ke Barat dan sang isteri diundang kesebelah Timur. Suami kembali isteri masih tourne, dan suami sudah tidak ada barulah isteri  pulang. Rumah tangga sepi, anak tidak mendapat bimbingan, makanan suami dilayani semata-mata oleh babu, pembantu rumah tangga, itu bukan rumah tangga tapi hotel atau  pesenggerahan tempat pelancong”.

Khusus  di bulan Ramadhan mubalighpun jam terbangnya cukup padat, jarang berada di rumah, siang dengan kegiatan pesantren kilat, subuh dengan kuliahnhya dan malam dengan ceramah Ramadhan, bergiliran ke setiap masjid dan mushalla sehingga tidak ada waktu yang kosong, seolah-olah  nampak benar mujahadahnya dalam da’wah pada bulan ini, terpanggil oleh ayat Allah,”Ajaklah manusia ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan nasehat yang baik dan berdiskusilah dengan mereka dengan argumentasi yang baik pula” [An Nahl 16;125] juga termotivasi oleh seruan sabda Rasulullah, ‘‘Sampaikanlah apa yang kau peroleh dariku meskipun satu ayat”.

            Dua bulan bahkan satu tahun sebelumnya ada masjid yang sudah menyusun jadwa Ramadhan, khawatir tidak kebagian ustadz yang tergolong kondang dan laris, sang mubalighpun jauh sebelum Ramadhan sudah penuh jadwalnya untuk manggung di sekian masjid dengan tarif yang beragam tapi lumayan.

            Ironinya, oknum mubaligh ada yang membuat lembaran jadwal ceramah sampai tiga lembar dan penuh ketiganya, bagaimana caranya dia membagi waktu dan  tampil pada waktu dan malam yang sama dari tiga masjid yang berbeda jarak dan tarifnya. Ada  memang masjid karena sangat membutuhkan sang ustadz, mereka   rela ceramah Ramadhan  setelah shalat tarawih menunggu giliran ustadz dari masjid lain yang jadwal ceramahnya menjelang tarawih, dimana ketika itu shalat tarawihnya sang da’i, oh mungkin saja di rumah atau nanti malam setelah selesai semua  jadwal ceramah, apakah tidak lelah dan mengantuk, ah shalat tarawihkan sunnah, tidak wajib kenapa dipermasalahkan.

             Ada yang mengatakan bahwa da’i dan mubaligh itu jauh berbeda dari segi aktivitas dan motivasi da’wahnya, sang da’i adalah orang yang melakukan perjalanan da’wah, semakin jauh da’wah dia lakukan maka semakin tipis kantongnya, sedangkan mubaligh adalah orang yang melakukan perjalanan da’wah , semakin jauh dia mendapat undangan semakin tebal kantongnya.

            Bahkan ada oknum mubaligh sebelum menerima tawaran untuk ceramah dia pasang tarif dan target dengan jumlah lumayan dan tidak sedikit pula dikala amplop yang diberikan tipis, tidak memadai menurut mubaligh tersebut, dia kembalikan dan atau minta tambahan dan tidak akan datang bila diundang lagi. Inilah oknum-oknum mubaligh yang bertebaran disetiap masjid dikala Ramadhan, bahkan mereka telah menjadikan da’wah sebagai mata pencaharian untuk menumpuk kekayaan, terlontar dari bibirnya dikala Ramadhan datang,”Ahlan wasahlan syahrur Ramadhan, bulan penuh berkah dan bulan panen”.

            Bukan kita tidak setuju, bila pengurus masjid memberikan amplop untuk transportasi seorang da’i, itu wajar dan boleh-boleh saja, tapi janganlah seorang da’i telah menjadikan   medan tabligh sebagai sarana untuk mencari keuntungan, ya ibarat kita ke sawah, niat hati mencangkul sawah untuk ditanami padi, namun disela-sela mencangkul itu kita temukan belut, tentu diambil. Tapi janganlah niat kita mencari belut, tentu akan rusak sawah. Bersihkanlah ladang dari ilalang, ketika ditemukan belalang tidak salah kalau kita memungutnya, jangan niatnya mencari belalang, tentu ladang akan berantakan.

            Kita butuh  benar siraman rohani seorang mubaligh saat kuliah subuh dan pengajian Ramadhan yang merupakan rangkaian dari “ihya ramadhan” menghidupkan dan menyemarakkan bulan Ramadhan. Pengurus masjid janganlah mengundang mubaligh yang mempermasalahkan materi [honor], padahal seorang da’i itu harus tampil prima menyampaikan da’wahnya tanpa terganggu besar kecilnya amplop karena mereka harus punya kepribadian “Qaadirun ‘alal kasbi” dia harus mampu mencari nafkah dan tidak menyandarkan kebutuhan rumah tangganya dari amplop yang dia terima.

            Demikian pula halnya pengurus pengajian, tidak sembarangan mengundang ustadz, pelajari dahulu pribadinya, keluarganya dan aplikasi kehidupan yang islami. Walaupun ceramah seorang mubaligh memukau, dapatkah kita terima sementara isteri dan anak perempuannya mengumbar aurat, dia hanya sibuk ceramah untuk orang lain, tapi untuk diri dan keluarganya tidak terbenahi sehingga keluar ungkapan , ”Pengajian ini untuk anda dan amplopnya untuk saya”.

            Masih banyak kita saksikan mubaligh yang makan dan minum dengan tangan kiri, rokok jadi konsumsinya sehari-hari, canda dan tawa yang cendrung ma’siyat, mubaligh model inikah yang bisa kita tumpangkan kemajuan islam kepadanya ?. dengan lantang  dia mengatakan, ”Pengajian saya silahkan dengar tapi kelakuan saya jangan ditiru”, apakah mereka tidak tahu kalau peringatan Allah itu sangat keras, ”Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat ? amat besar kebencian disisi Allah   bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan” [Ash Shaffat 61;2-3]

Target da’wah secara umum yaitu terciptanya fardhul muslim, pribadi-pribadi yang komit dengan nilai-nilai islam serta siap untuk memperjuangkan kebenaran ini. Mereka adalah pribadi yang ”Salamatul fikrah” yaitu  pemikiran yang tidak terkontaminasi oleh isme yang jahiliyyah. ”Shahihul ibadah” yaitu ibadah yang hanya mengacu kepada sunnah Rasulullah, ”Salimul Aqidah” artinya aqidah yang bersih dari syirik, nifaq dan fasiq, dan ”Mathinul Khuluq” yaitu akhlak yang solid yang menjadikan Rasulullah sebagai teladannya, itulah seharusnya yang dikerjakan oleh da'i dengan mengerahkan segala daya dan upayanya yang diawali dari pribadinya, keluarga hingga masyarakatnya, hal-hal yang haram pasti kita tinggalkan tapi bagi seorang mubaligh dia berupaya untuk meninggalkan hal yang makruh karena memang ujud kesempurnaan seseorang kata Rasulullah ialah meninggalkan hal-hal yang tidak ada manfaatnya, seperti rokok.
           
            Di tahun 1994, saya pernah mengikuti muzakarah du’at [diskusi para da’i] se Sumatera dan Jakarta di Pesantren Darul Ulum Sakatiga Palembang Sumatera Selatan yang dihadiri oleh 70 orang, dari sejumlah itu hanya dua orang ustadz yang merokok. Tahun 2000 saya mengikuti pula Muzakarah Ulama Nasional di Medan yang diikuti oleh 200 orang peserta, hanya satu orang yang merokok. Selama dalam arena muzakarah, da’i yang masih merokok tadi walaupun cukup tersiksa karena tidak bebas mengisap rokoknya punya azzam [tekad] untuk meninggalkan rokok setelah muzakarah selesai, tapi dia akui realisasinya sulit sekali.

            Dalam sebuah perjalanan tahun 1997 saya menumpang dengan mobil seorang anggota DPRD dari fraksi  TNI. Hampir empatpuluh lima menit kami asik berbincang-bincang tentang berbagai hal, sampailah dia menawarkan rokoknya kepada saya, dengan halus saya tolak sambil mengatakan,”Maaf pak, saya tidak merokok”, mendengar jawaban itu spontan dia menyambut,”Bagus sekali saudara tidak merokok dan itu baik, tapi sayang saya tidak mampu meninggalkannya”.

            Demikian kuatnya candu rokok mengikat manusia, sejak dari masyarakat awam, militer, anggota dewan sampai seorang yang berstatus ustadz, da’i dan ulama banyak yang terjerat oleh barang makruh ini dan itu sudah bertahun-tahun  memenjarakannya sehingga wajar mungkin ucapan seloroh keluar dari bibirnya, ”Putus cinta biasa tapi kalau putus rokok pusing kepala”. Walaupun tentang hukum rokok ini ulama berbeda pendapat, mayoritas menyatakan makruh walaupun ulama di Pakistan sudah mengharamkannya, paling tidak sungguh banyak mudharatnya bagi kehidupan manusia, orang yang baik dia selalu menghindari segala hal yang mendatangkan mudharatnya termasuk rokok bahkan salah satu kenapa hidayah Allah tidak masuk  kepada seseorang karena dia masih merokok.

Sebenarnya ceramah, tabligh, khutbah dan pengajian belumlah akhir dari da'wah, sebab sedikit sekali efeknya pada perubahan sikap mental seseorang, dalam sejarah islam kita lihat Rasulullah tidak begitu sering tampil di hadapan   umum untuk ceramah, beliau  lebih inten dalam halaqah, komunitas tertentu untuk menciptakan kader-kader yang punya militansi tinggi.

Ceramah atau tabligh  bukanlah segala-galanya, dia merupakan bagian awal dari da’wah melalui fase-fase yang rapi, tidaklah disebut da’wah bila hanya mengandalkan ceramah atau tabligh saja,  seorang da’i seharusnya menguasai marhalah atau fase-fase dalam da’wah sehingga dalam waktu yang ditargetkan dapat melahirkan syakhsiyah islamiyyah yaitu pribadi islam yang militansinya dapat diandalkan untuk mengasung da’wah ini bersama jajaran da’i lainnya, ”Kamu adalah ummat  terbaik yang dikeluarkan dikalangan manusia, karena memerintahkan kepada yang ma’ruf dan mencegah dari perbuatan mungkar, dan beriman kepada Allah” [Ali Imran 3;110].

            Tidak sedikit orang yang disebut dengan da’i, jam terbangnya padat, sibuk memberikan ceramah di masjid-masjid bahkan jarang pulang karena da’wah dipercayakan kepadanya, tapi saat ditanya tentang berapa orang kader yang sudah dia cetak, siapa orang yang karena dia mendapat hidayah Allah, siapa mad’u atau obyek da’wahnya yang dapat diandalkan loyalitasnya kepada Allah semata, maka dia mulai berfikir bahwa selama ini memang  tidak pernah melakukan demikian sehingga wajar ketika da’wah semarak di masjid-masjid, di mushalla, media massapun ikut serta meramaikan bulan Ramadhan ini, tapi ma’siyat semakin menjadi-jadi, seolah-olah tidak ada da’wah disekitar semaraknya  bulan Ramadhan.

            Suatu hari Anas bin Nadhar kacewa karena dia tidak ikut  dalam perang Badar, padahal saat itu kemenangan dipihak ummat islam, yang dia sesalkan bukan kemenangan itu, tapi dalam kemenangan itu tidak ada kontribusinya. Demikian pula halnya untuk saat ini sudah banyak putri-putri islam yang mengenakan jilbab, remaj dan pemuda mengkaji serta siap mengamalkan islam bahkan mereka cendrung disebut kaum fundamentalis, dibeberapa daerahpun ummat islam sudah siap menerapkan syariat islam untuk kepentingan kehidupannya.

            Dari realitas keberhasilan da’wah islam itu, adakah keterlibatan kita sebagai mubaligh di dalamnya atau hanya kiga sibuk dengan ceramah Ramadhana sekali setahun tanpa melakukan pembinaan, da’wah bukanlah ceramah saja tapi adalah pembinaan walaupun didalamnya tidak bisa dilepaskan metode ceramah.

            Kerja seorang da’i, bila hanya tabligh saja sehingga memadatkan kesibukannya, siang dan malam memenuhi undangan ceramah, memang tidak salah, tapi janganlah terlena, siap kader yang menggantikan anda kelak sehingga da’wah itu berkesinambungan dari satu generasi ke generasi berikutnya, tidak terputus estafet perjuangan da’wah karena wafatnya seorang da’i.

            Inilah kekhawatiran seorang nabi yang bernama Zakaria dalam munajadnya, ”Ya Tuhanku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah dipenuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdo’a kepada kepada Engkau,  ya Tuhanku. Dan sesungguhnya aku khawatir terhadap mawaliku sepeninggalku, sedang isteriku adalah seorang yang mandul, maka anugerahilah    aku dari sisi Engkau seorang putera, yang akan mewarisi aku dan mewarisi sebagian keluarga Ya’kub, dan jadikanlah ia, ya Tuhanku seorang yang diridhai [Maryam 19;4-6].

            Da’wah memang tidak akan selesai oleh seorang da’i saja, tapi ada tidak peran kita di dalamnya karena da’wah memang seperti bola salju, dia akan bergulir kencang kebawah, semakin lama semakin membesar dan menggulung siapa saja, tapi ada tidak peran mubaligh di dalamnya yang selama ini sering tampil di mimbar-mimbarmasjid , tapi melalaikan kaderisasi dalam da’wah, silahkan sibukkan diri dalam tabligh apa saja tapi jangan lupakan takwin yaitu pembinaan ummat walaupun hanya satu orang, Rasulullah bersabda,”Seandainya Allah memberi petunjuk kepada seseorang dengan sebab engkau, maka itu lebih baik  bagimu daripada apa yang dijangkau matahari sejak terbit hingga terbenam” wallahu a'lam. [Cubadak Solok, Ramadhan 1431.H/ Agustus 2010.M].
      


           





Tidak ada komentar:

Posting Komentar