Minggu, 11 April 2021
Rabu, 10 Februari 2016
4. Kiyai
Ketika kita menyebut kata“Kiyai’’ maka
yang terbayang dibenak kita adalah
seorang tokoh kharismatik, dengan sorban yang melilit di kepala yang berkopiah
putih, jenggot yang dipelihara sebagai sunnah nabi dengan mengenakan pakaian
gamis sehari-hariannya. Tutur katanya penuh dengan petuah dan nasehat agama
yang didengarkan oleh ribuan muridnya pada sebuah pesantren, imannya jangan
ditanya lagi tentang kualitas taqwa, amal ibadahnya tidak sedikit, malam
dijadikan sebagai sarana untuk mendekatkan diri agar lebih dekat lagi kepada
Allah,sikap dan makanannya terjaga dengan baik. Itulah gambaran kiayi yang
selama ini muncul di benak kita, tapi nampaknya kiayai tidaklah semuanya sesuai
dengan yang digambarkan diatas.
Julukan atau sebutan
Kiyai atau Kiai atau Kiyahi ( كياهي) ) sering menjadi pertanyaan orang.
Apa sebenarnya makna Kiyai itu. Dari mana asal muasal nama Kiyai itu. Dan apa
sebenarnya ciri-ciri serta hal-hal yang harus dilakukan oleh para Kiyai.
Pertanyaan itu lebih mencuat lagi ketika orang-orang yang
disebut Kiyai atau para Kiyai ada yang dinilai berbuat yang di luar jalur
kebiasaan, misalnya ada yang patut diduga sebagai provokator, ada yang
jadi pengipas-ngipas suasana dengan memanasi anak buah untuk melawan terhadap
lawan-lawan politik, ada yang memanas-manasi untuk mendukung Presiden Gus Dur /
Abdurrahman Wahid karena presidennya dari golongan sang Kiyai itu, yaitu
Nahdlatul Ulama dengan partainya PKB (Partai Kebangkitan Bangsa). Tidak jarang
pula ada Kiyai yang suka kumpul-kumpul sesamanya, hingga disebut Kiyai khos
(khusus) yang kaitannya erat dengan soal dukung mendukung terhadap kursi
presiden yang sedang diduduki oleh golongannya.
Tetapi di balik itu
ada Kiyai dogdeng (kebal) yang suka sesumbar bahwa wadyabalanya
rata-rata jadug (sakti, tidak mempan senjata tajam). Ada juga Kiyai yang
dari zaman Orde Baru pimpinan Presiden Soehartosukanya mendekat-dekat dengan
penguasa, bahkan pernah bersama-sama puluhan Kiyai dipimpin Nur Iskandar SQ
menghadiahi emas beberapa kilogram kepada Presiden Soeharto dengan dalih untuk
mengatasi krisis ekonomi/ moneter. Setelah para Kiyai itu sowan (hadir
dengan penuh ketundukan) ke tempat Presiden Soeharto, justru tak lama kemudian
sang Presiden dipaksa turun dengan didemonstrasi oleh puluhan ribu mahasiswa
selama dua minggu, hingga ia menyatakan turun dari kursi kepresidenan 1998.
Di
tengah perkembangan masyarakat Indonesia pada umumnya dijumpai beberapa gelar
sebutan yang diperuntukkan bagi ulama. Misalnya, di daerah Jawa Barat (Sunda)
orang menyebutnya Ajengan, di
wilayah Sumatera Barat disebut Buya,
di daerah Aceh dikenal dengan panggilan Teungku,
di Sulawesi Selatan dipanggil dengan nama Tofanrita, di daerah Madura disebut dengan Nun atau Bendara
yang disingkat Ra, dan di Lombok
atau seputar daerah wilayah Nusa Tenggara orang memanggilnya dengan Tuan Guru.
Khusus
bagi masyarakat Jawa, gelar yang diperuntukkan bagi ulama anatara lain Wali. Gelar ini biasanya diberikan
kepada ulama yang sudah mencapai tingkat yang tinggi, memiliki kemampuan pribadi yang luar biasa. Sering pula para wali ini
dipanggil dengan Sunan
(Susuhunan), seperti halnya para raja. Gelar lainnya ialah Panembahan, yang diberikan kepada
ulama yang lebih ditekankan pada aspek spiritual, juga menyangkut segi
kesenioran, baik usia maupun nasab (keturunan). Hal ini untuk
menunjukkan bahwa sang ulama tersebut mempunyai kekuatan spiritual yang tinggi.
Selain itu, terdapat sebutan Kiai, yang merupakan gelar kehormatan
bagi para ulama pada umumnya. Oleh karena itu, sering dijumpai di pedesaan Jawa
panggilan Ki Ageng atau Ki Ageng/ Ki Gede, juga Kiai Haji.[Kiyai Itu Apa?, Nahyi mungkar.com]
Berbeda dengan
masyarakat Jawa, bagi masyarakat Banjar (Kalimantan Selatan), sebutan kyai sama
sekali tak ada hubungannya dengan ulama, tetapi merupakan gelar bagi kepala
distrik (jabatan setingkat wedana di Jawa). Sedangkan di Sumatera Barat,
sebutan kyai dilekatkan kepada sosok etnis cina yang sudah tua (cino tuo), sama
sekali tidak ada hubunganya dengan ulama dan sebagainya.
Saat ini, sebutan kyai yang banyak
dijumpai adalah Kyai Maja, Kyai Langgeng, Kyai Kanjeng, Kyai Slamet, Kyai
Sengkelat, Kyai Semar, Kyai Sapu Jagad, Kyai Petruk, Kyai Sadrach, dan
sebagainya. Bahkan ada juga sebutan Kyai Cabul, Kyai Pajero, dan Kyai Liberal
yang berkonotasi olok-olok terhadap sosok manusia penjual agama.
Dari bahan bacaan maupun
kenyataan di masyarakat, sebutan kyai terbukti belum tentu sebagai julukan
untuk orang yang alim agama dan akhlaqnya bagus.Bahkan ada yang berupa binatang
atau benda.Sedang muatannya pun bermacam-macam.Ada yang baik, ada yang buruk,
ada yang menuntun manusia kepada keimanan yang benar, ada yang menyebarkan
kemaksiatan tapi seolah agamis, ada yang menyesatkan, dan bahkan ada yang murtad.Sehingga
tidak mengherankan bila kelak di akherat isi neraka itu di antaranya adalah
Kyai-kyai, bahkan ada yang kekal di neraka karena telah murtad dari Islam.
Sedang julukan kyai-nya walaupun masih melekat namun sama sekali tidak ada
nilainya apa-apa. Kecuali bagi kyai yang memang benar-benar beriman dan beramal
shalih, maka tentu saja Allah tidak akan menyia-nyiakan kebaikannya yang
dilandasi iman. Dan itu tercakup dalam ayat:
“Sesungguhnya
orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka adalah surga Firdaus
menjadi tempat tinggal,mereka kekal di dalamnya, mereka tidak ingin berpindah
dari padanya.(QS Al-Kahfi/ 18: 107, 108).
Beriman di situ disyaratkan
dengan tidak bercampur dengan kemusyrikan. Dalam pembahasan ini di antara
kemusyrikan itu adalah menyembah kuburan dengan kedok ziarah ke kubur-kubur
wali dan orang shaleh, dengan cara meminta kepada isi kubur sebagaimana
difatwakan kemusyrikannya dalam fatwa di atas. Syarat iman tidak bercampur
dengan kemusyrikan itu ditegaskan dalam Al-Qur’an:
‘Orang-orang
yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik),
mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang
mendapat petunjuk. (QS Al-An’am/ 6: 82). [Macam-macam Kyai, nahimunkar.com27 January 2011].
Di masyarakat, masih kental pengetahuan
mereka bahwa kiyai itu adalah orang yang baik iman dan amalnya, tauhidnya tidak
diragukan lagi, tapi di lapangan hal itu jauh sekali keadaannya, bahkan ada
sebuah buku yang mengupas tentang kiayi yang bergelimang dengan kemusyrikan,
pada hal syirik itu bertentangan dengan ajaran islam.
BukuKyai Kok Bergelimang Kemusyrikan ini
mengandung makna, ada orang di barisan depan Ummat Islam tetapi bergelimang
kemusyrikan. Padahal kemusyrikan adalah puncak kemunkaran, dosa terbesar yang
tak diampuni Alloh Subhanahu wa Ta’ala bila sampai ajal tiba pelakunya
belum bertaubat dengan sebenar-benarnya taubat yaitu taubatan nashuha.
Berbagai
fenomena puncak-puncak kemunkaran, namun dilakoni bahkan dibela mati-matian
oleh pemuka-pemuka agama di antaranya kyai, cendekiawan, tokoh dan sebagainya,
ditampilkan di buku ini.
Pembahasannya
menukik pada sesatnya Ahmadiyah,
Syi’ah, Pluralisme Agama, Syirik, Bid’ah, Kristenisasi, dan Kemunkaran.Juga
buruknya pembelaan dari orang-orang yang sesat terhadap pelaku dan pengidap
kesesatan.Jadi ada pengidap kesesatan, ada pula pembela-pembela kesesatan yang
sekaligus juga pelaku kesesatan.
Buku
ini cukup tajam dan mengena dalam menyoroti fenomena akhir-akhir ini di
Indonesia, dimana terjadi peristiwa yang meresahkan Ummat Islam, yaitu
bertemunya para pengidap kesesatan dengan para pendukung kesesatan yang justru
dengan ramai-ramai berani menantang kebenaran, walau kebenarannya sudah sangat
jelas, dan kesesatannya pun nyata, seperti tentang sesatnya Ahmadiyah yang
didirikan oleh Nabi Palsu Mirza Ghulam Ahmad (1835-1908M) di India.Sehinggabuku
ini merupakan kumpulan dari puncak-puncak masalah yang meresahkan Ummat Islam.[BukuKyai Kok Bergelimang Kemusyrikan, Redaksi
nahimunkar.com, 9
September 2008].
Kyai liberal pendukung porno sudah ada yang mati, sebagian orang pun bernafas lega.Namun kini ada yang muncul lagi.Walau tingkatnya local, namun keburukan yang dia hembuskan tampaknya berskala nasional.Sebagaimana kyai liberal yang sering menggunakan qiyas batil, kyai yang ini juga demikian.
Gus Amak menyayangkan pihak-pihak yang menentang pencalonan Julia Perez.Apalagi, penolakan itu semata-mata karena Julia Perez terkenal sebagai artis yang sering berpakaian seronok.Gus Amak mengimbau warga Pacitan tak terjebak pada penampilan fisik seseorang.
“Banyak orang yang mengenakan sorban dan berpakaian seperti ulama mencalonkan diri menjadi pemimpin.Namun, saat menjabat ulahnya tak mencerminkan seorang ulama,” kata Gus Amak saat ditemui di Pacitan, Jumat (2/4).(Metrotvnews.com).
Komentar sederhana pun dapat diarahkan kepada kyai ini.Perlu diingatkan, kenapa wanita berpakaian seronok tidak jadi masalah bagi kyai yang keblinger ini, tetapi orang mengenakan sorban justru dimasalahkan. Ini qiyas model apa?
Ya, memang lakon buruk ketika dilakukan orang bersorban jadi masalah.Tetapi bersorbannya sebelum bertingkah buruk itu tidak ada masalah.Berbeda dengan wanita berpakaian seronok, walau misalnya jadi dermawan sekalipun, tetaplah berpakaian seronoknya itu sudah jadi masalah. Karena Nabi shallalahu ;alaihi wa sallam bersabda:
“Akan ada di akhir umatku
orang-orang yang naik diatas pelana seperti layaknya orang-orang besar, mereka
singgah di depan pintu-pintu masjid, wanita-wanita mereka berpakaian namun
telanjang, di atas kepala mereka ada semacam punuk unta,laknatlah mereka karena
sesungguhnya mereka itu terlaknat.” (HR. Ahmad,).
Syaikh Muhammad
Ibnu Shalih Al Utsaimin rahimahullah menjelaskan: Memakai pakaian-pakaian yang ketat yang
memperlihatkan tonjolan kecantikan wanita dan menampakkan keindahan tubuhnya
adalah perbuatan haram, karena Nabi r bersabda :
Dua golongan orang yang merupakan calon
pengisi neraka yang belum saya lihat mereka itu : Laki-laki yang memiliki
cemeti/ cambuk bagaikan ekor sapi yang dengannya mereka memukuli orang, dan
wanita-wanita yang kasiyat ‘ariyat (berpakaian tetapi telanjang) mailat mumilat
(menyimpang dari kebenaran dan mengajak orang lain untuk menyimpang) (HR Muslim dan lainnya).
Sabdanya,” kasiyat ‘ariyat,” telah
ditafsirkan:
1.Bahwa mereka
itu berpakaian dengan pakaian pendek yang tidak menutupi aurat yang harus
ditutup,
2.dan
ditafsirkan bahwa mereka mengenakan pakaian tipis yang tidak menutupi kulitnya
dari pandangan di baliknya,
3.dan
ditafsirkan juga bahwa mereka mengenakan pakaian ketat yangmemang menutupi
kulit dari pandangan namun tetap menampakan lekuk dan bentuk kemolekan tubuh
wanita.
Oleh sebab itu
tidak boleh bagi wanita mengenakan pakaian-pakaian ketat/sempit ini kecuali
hanya di hadapan suaminya saja, karena di antara suami isteri tidak ada aurat,
berdasarkan firman-Nya:
Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali
terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki, maka sesungguhnya
mereka dalam hal ini tiada tercela (Al Mu’minun 5-6).
Apakah kyai pengasuh
Pesantren Tremas di Pacitan Jawa Timur itu tidak pernah mengaji Al-Qur’an dan
Hadits, atau memang sudah dia tinggalkan, tinggal mengikuti hawa nafsunya?[Astaghfirullah,
Ada Kyai yang Mendukung Artis Porno, nahimunkar.com,4 April 2010].
Majelis Ulama Indonesia (MUI)
Kabupaten Kudus menolak fatwa rokok haram. Mereka berusaha membawa masalah itu
ke MUI Pusat yang akan membahas fatwa tersebut di Padang Panjang, Sumatera
Barat, 24 Januari 2009 mendatang. ”Kami tetap memberi hukum mubah (diperbolehkan)
untuk merokok,” tegas Ketua MUI Kudus KH Syafiq Nashan dalam jumpa pers di aula
DPRD Kabupaten Kudus kemarin (17/1).
MUI Kudus, menurut Syafiq,
akan berjuang untuk menghapus fatwa tersebut dari agenda pertemuan MUI di
Padang Panjang itu. Jika tetap akan dibahas, MUI Kudus akan memperjuangkan
maksimal fatwa adalah mubah.
Menurut dia, fatwa pengharaman
rokok justru akan menimbulkan masalah baru, khususnya bagi daerah industri
rokok seperti Kudus. Sebab, lebih dari 120 ribu warga Kudus bergantung kepada
perusahaan rokok.“Aspek kemudaratan baru bagi masyarakat akan timbul.Sebab,
jika rokok haram, mulai petani, pengusaha, karyawan, sampai pengonsumsi rokok
akan dirugikan,” tambahnya.
Selain pertimbangan sosial,
Syafiq menjelaskan masih adanya perbedaan pendapat soal hukum rokok di kalangan
para ulama.“Para kiai itu sebagian besar perokok juga.Jadi, di tataran para
kiai juga masih ada perbedaan,” urainya.
Dalam kesempatan yang sama,
Ketua DPC KSPSI Kudus H Moch As’ad menerangkan bahwa fatwa haram rokok
merupakan ancaman serius bagi perusahaan rokok dan perekonomian. Sebab, dari
hasil bea cukai, perusahaan rokok menjadi salah satu penyumbang terbesar devisa
negara.“Untuk tahun 2009, hasil cukai rokok mencapai Rp 50 triliun. Jumlah itu
akan disokong pula oleh Kabupaten Kudus yang menjadi salah satu sentral usaha
rokok. Karena itu, jangan sampai rokok haram,” paparnya.
Dia mengharapkan MUI
membatalkan rencana fatwa tersebut seiring dengan banyaknya desakan dari
berbagai kalangan.Sebab, fatwa haram rokok itu bisa menimbulkan hukum
ikutan.Yaitu, proses produksi dan penjualan rokok menjadi haram. Bagi MUI,
rokok merupakan barang yang jelas bahayanya terutama bagi kesehatan. Namun, MUI
menyadari, bila mengharamkan secara keseluruhan tentunya akan menimbulkan
permasalahan yang lebih besar.
Ketua Komnas Anak Seto Mulyadi
meminta MUI untuk mengharamkan rokok.Sebab, dari segi kesehatan, rokok sangat
membahayakan bagi tubuh manusia.Selain itu, hampir sebagian besar pengguna
rokok adalah anak-anak. Asap rokok sendiri mengandung 4.000 bahan kimia, 43
diantaranya karsinogenik dan racun syarafnya sangat adiktif tiga kali lebih
toksik dari arsenik.”.[Kyai Kok Berjuang untuk Rokok, nahimunkar.com, 20
January 2009].
Kepribadian
seorang kiyai seharusnya berbeda dengan masyarakat awam, amal-amal yang sunnah
seharusnya dilakukan secara kontinyu, sedangkan amal yang makruh apalagi
mendekati haram selayaknya ditinggalkan. Rokok memang masih menjadi perbedaan
pendapat bagi para ulama dan kiyai tapi melihat banyaknya mudharat yang ada
pada rokok maka sudah seharusnya rokok disepakati untuk ditinggalkan oleh para
kiyai, jangankan untuk masyarakat awam yang meninggalkan rokok sedangkan
kiyainya saja masih juga menyulut rokok setiap waktu, bahkan masjid penuh
dengan asbak rokok karena tidak ada teladan dari para kiyai.
Karena
demikian lemahnya iman dan keteguhan hati para kiyai sehingga mereka mudah saja
diadu domba oleh pihak-pihak tertentu, bukan hanya membela penyanyi porno dan
membela kepentingan rokok tapi juga
adanya kiyai yang dijadikan kaki tangan oleh kepentingan Amerika dan kroninya.
Dr. Hidayat Nur Wahid. Ia mewanti-wanti agar mewaspadai
ulama-ulama atau kyai-kyai palsu bentukan Amerika. Memang dalam rangka meredam
aksi-aksi dan sentimen negatif Amerika di Indonesia, negeri Paman Sam ini
banyak menguras koceknya untuk membeli ulama, menciptakan ulama palsu.Hal ini
terungkap dari buku The CIA at War yang menguak program membeli
ulama dan pemimpin Islam dalam menghadapi sentimen-sentimen anti Amerika di
dunia Islam dan Arab. Dalam wawancara pengarang buku tersebut dengan George Tenet (Direktur CIA),
ditegaskan bahwa Amerika menemukan ruang untuk melawan gelombang anti Amerika
dengan cara menyuap para ulama atau kyai, menciptakan kyai palsu dan merekrut
tokoh-tokoh agama Islam sebagai agen.
Amerika juga melakukan politik stick and carrot
terhadap pesantren-pesantren. Pada 18-28 September 2002 lalu, Institute for
Training and Development (ITD) sebuah lembaga Amerika mengundang 13 pesantren
‘pilihan’ (Dari Jawa, Madura, Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi) untuk
berkunjung ke Amerika. Masing-masing juga mendapat bantuan USD 2000.
Amerika dan Australia juga membantu USD 250 juta dengan
dalih mengembangkan pendidikan Indonesia. Padahal menurut sumber diplomat
Australia yang dikutip The Australian(4/10/2003), sumbangan
tersebut dimaksudkan untuk mengeliminir ‘madrasah-madrasah’ yang menghasilkan
terorisme dan ulama yang membenci Barat.
“Memang ada sebagian pemimpin pesantren yang menganggap
bahwa semua bantuan tersebut layak diterima asal kita tidak terpengaruh dengan
kepentingan-kepentingan Amerika.Tapi yang saya lihat di kita masih ada
budaya ewuh pakewuh dan sungkan.Jadi sulit bila kita menerima
bantuan tanpa memberi imbalan balik sesuai kepentingan pemberi,” tandas Nur
Wahid.
Maka pada 2003 lalu, 1000 ulama dan kyai berkumpul di
Jakarta untuk menolak program bantuan tersebut, apalagi yang mensyaratkan
perubahan kurikulum pesantren. “Semua sepakat untuk mewaspadai ulama atau
kyai-kyai yang merupakan boneka-boneka Amerika untuk melemahkan tradisi pendidikan
Islam dan nilai-nilai moral bangsa,” kata Hidayat Nur Wahid.[Awas Kyai Palsu Bentukan Amerika,
nahimunkar.com, 2 July 2011].
Dengan kenyataan ini berarti ada persepsi yang salah
terhadap makna kiyai, yang selama ini kita mengartikannya dengan ulama, orang
yang luas agama dan kharismatik bahkan para ulama itu merupakan orang yang
menerima warisan dari Nabi Saw.
Di kalangan masyarakat Jawa, ada dikenal sebutan atau gelar
kehormatan yang ditujukan kepada ulama, yaitu Kyai.Namun demikian, gelar Kyai
bukan satu-satunya sebutan penghormatan yang diberikan masyarakat Jawa kepada
kaum ulama. Masih ada beberapa sebutan lain misalnya Wali, Sunan (Susuhunan)
dan Panembahan.
Seiring berjalannya waktu, terutama ketika terjadi
nasionalisasi istilah-istilah jawa di masa Orde Baru, sebutan Kyai juga
ditempelkan kepada ulama non Jawa, padahal di setiap daerah, sebelumnya sudah
eksis sebutan khas untuk para ulama seperti Ajengan untuk masyarakat Jawa
Barat, Buya untuk masyarakat Sumatera Barat, Tengku untuk masyarakat Aceh.
Sedangkan di kalangan masyarakat Sulawesi Selatan gelar
kehormatan yang diberikan kepada kaum ulamanya adalah Tofanrita.Untuk
masyarakat Madura dikenal sebutan Nun atau Bendara (biasa disingkat Ra).Di
kalangan masyarakat Nusatenggara seperti Lombok dikenal sebutan Tuan
Guru.Hampir mirip dengan di Lombok, masyarakat Betawi biasa menyebut ulamanya
dengan sebutan Guru, tapi sebutan ini pada akhirnya kalah pamor dibandingkan
dengan sebutan Kyai dan Habaib.
Faktanya,
sebutan Kyai tidak selalu menunjuk kepada seseorang (atau sekelompok orang)
yang benar-benar telah mengerti Agama Islam dengan segala cabangnya; atau
menunjuk kepada Guru Agama Islam yang luas pandangannya.Ada sebutan Kyai yang
ditujukan kepada kalangan pendidik tingkat nasional (sekuler) –biasanya
disingkat menjadi Ki– misalnya Ki Hajar Dewantara.Ada juga sebutan Kyai atau Ki
yang ditujukan kepada sekelompok orang yang mahir mendalang, seperti Ki
Dalang.Bahkan makna Kyai atau Ki juga menunjuk kepada sekelompok orang yang
menjalankan profesi perdukunan yang tergolong musyrik.Jadi, makna Kyai memang
tidak selalu tertuju kepada ulama agama Islam yang luas ilmu pengetahuannya.
Di Kalimantan Selatan (Banjarmasin dan sekitarnya), sebutan Kyai pada masa sebelum perang kemerdekaan menunjuk kepada seseorang yang menduduki jabatan setingkat Wedana (District-hoofd).Dalam istilah sekarang Wedana setara dengan Walikota. Sedangkan di Padang, juga pada masa sebelum perang kemerdekaan, sebutan Kyai berarti Cino Tuo, yaitu orang Cina yang telah berusia lanjut.[Kyai Belum Tentu Ulama, nahimunkar.com,6 April 2008].
Bahkan
sebenarnya dalam terminology islam tidak ada istilah kiyai itu, yang ada hanya
ulama, da’i dan mubaligh, yaitu orang yang mendapat amanah untuk menyampaikan
da’wah islamiyyah kepada ummat manusia melanjutkan risalah yang dibawa Nabi
Muhammad, jadi janganlah kita terkecoh dengan sebutan kiyai karena setiap kiyai
itu belum tentu ulama dan tidak semua ulama diberi sebutan kiyai, wallahu a’lam
[Cubadak Solok, 22 Juli 2011.M/20 Sya’ban 1432.H].
3. Dakwah
Seorang mukmin dituntut untuk menyampaikan
risalah islam ini semampunya yang kita kenal dengan da'wah, bahkan Rasulullah
bersabda, ”Sampaikan apa yang engkau peroleh dariku meskipun satu ayat”.
Ceramah
atau tabligh bukanlah segala-galanya,
dia merupakan bagian awal dari da’wah melalui fase-fase yang rapi, tidaklah
disebut da’wah bila hanya mengandalkan ceramah atau tabligh saja, seorang da’i seharusnya menguasai marhalah
atau fase-fase dalam da’wah sehingga dalam waktu yang ditargetkan dapat
melahirkan syakhsiyah islamiyyah yaitu pribadi islam yang militansinya dapat
diandalkan untuk mengasung da’wah ini bersama jajaran da’i lainnya; ”Kamu
adalah ummat terbaik yang dikeluarkan
dikalangan manusia, karena memerintahkan kepada yang ma’ruf dan mencegah dari
perbuatan mungkar, dan beriman kepada Allah” [Ali Imran 3;110].
Suatu
hari Anas bin Nadhar kacewa karena
dia tidak ikut dalam perang Badar,
padahal saat itu kemenangan dipihak ummat islam, yang dia sesalkan bukan
kemenangan itu, tapi dalam kemenangan itu tidak ada kontribusinya. Dari realitas keberhasilan da’wah islam itu,
adakah keterlibatan kita sebagai mubaligh di dalamnya atau hanya kita sibuk
dengan ceramah tanpa melakukan pembinaan, da’wah bukanlah ceramah saja tapi
adalah pembinaan walaupun didalamnya tidak bisa dilepaskan metode ceramah.
Dalam rangka
mengembangkan sayap da’wah ke tengah masyarakat sehingga da’wah itu betul-betul
mereka rasakan, banyak sarana yang dapat dipakai diantaranya berupa tulisan
yang tersaji dalam bentuk artikel atau makalah, semua itu untuk nashrul fikrah
[penyebaran ide-ide] yang islami sekaligus mengantisipasi pemikiran-pemikiran
yang berkembang tidak islami, cendrung menyesatkan sehingga idiologi seorang muslim terkontaminasi
oleh segala isme yang diciptakan manusia. Sebuah ungkapan mengatakan bahwa
seorang muslim itu mempunyai dua kiblat, ketika shalat kiblatnya jelas ke
ka’bah tapi segala tindak tanduk diluar shalat mereka berkiblat ke barat.
Allah
memberi tugas berat kepada siapa saja yang telah menyandang predikat muslim dan
da’i untuk meluruskan pandangan ummat agar berberak bersama islam dan berjalan
menuju jalan Allah, dalam surat An Nahl 16;125 diterangkan, ”Ajaklah manusia itu ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran
yang baik serta beragumentasilah dengan mereka dengan cara yang baik pula”.
Rasulullah
menegaskan kepada ummatnya, ”Sampaikanlah
apa yang telah anda terima dariku meskipun hanya satu ayat”. Ini
menunjukkan betapa pentingnya da’wah demi keselamatan hidup manusia di dunia
hingga akherat. Bahkan seorang syaikh bernama Dr. Musthafa Mashur menyatakan, ”Nahnu Du’at qabla kulli syai’” artinya kami
adalah da’i sebelum menjadi sesuatu apapun.
Ketika berda'wah kita juga harus berhati-hati karena makna da'wah itu
asalnya adalah mengajak, kalau mengajak tentu dengan cara yang santun agar
orang mau untuk mengikuti ajakan kita; "Serulah
(manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan
bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu dialah yang lebih mengetahui
tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan dialah yang lebih mengetahui
orang-orang yang mendapat petunjuk." [An Nahl 16;125].
Suatu ketika cucu Rasulullah yang
bernama Hasan dan Husen menyaksikan seorang nenek yang sedang berwudhu, namun
wuhdu'nya tidaklah sesuai dengan apa yang diajarkan oleh Rasulullah, untuk
menegur nenek ini tentu suatu hal mustahil, maka mereka mendatangi nenek itu
pada waktu yang lain sambil pura-pura bertengkar, sang nenek berperan sebagai
penengah. Mereka mengatakan bahwa setiap berwudhu' selalu ribut karena
masing-masing saling menyalahkan, Hasan menyatakan bahwa cara wudhu'nya yang
baik dan sebaliknya Husen juga mengaku dialah yang paling benar. Akhirnya secara bergiliran
keduanya memperagakan kemampuannya berwudhu' sedangkan sang nenek bertindak
sebagai juri. Ketika keduanya sudah menampilkan praktek berwudhu' di hadapan
sang nenek, lansung sang nenek menangis dan mengatakan bahwa kedua cucu Rasul
itu bagus dan benar cara wudhu'nya sedangkan nenek yang salah, mulai saat itu
sang nenek memperbaiki cara berwudhu'nya.
Pada suatu hari Rasulullah kedatangan seorang tamu
dari pegunungan, dia datang lansung masuk masjid dan buang air kecil di pojok
masjid itu, melihat hal demikian sahabat pada marah, ada yang akan menebas
kepalanya, ada pula yang menawarkan diri untuk mengusir orang itu dari masjid,
semuanya marah melihat kelakuan pemuda pegunungan itu. Rasulullah lalu
mengambil seember air dan menyiram bekas pipis itu kemudian mendekatinya dan
bertanya,"Apa yang anda lakukan dan anda mau kemana". Pemuda itu
mengatkan bahwa dia sedang mencari seorang Nabi bernama Muhammad, maka
berkenalanlah dia dengan Rasul terus menyatakan diri sebagai muslim.
Ketika akan kembali ke desanya sang
pemuda itu berdo'a,"Ya Allah kini saya sudah bertemu dengan nabi-Mu dan
saya telah sebagai muslim, ya Allah masukkanlah saya dan Muhammad ke dalam
syurga-Mu, sedangkan yang marah-marah tadi jangan".
Allah berfirman dalam surat Ali Imran
3;159, ”Maka disebabkan rahmat Allah dan
karena Allahlah kamu berlaku lemah
lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap kasar lagi keras, tentulah
mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itulah maafkan mereka,
mohonlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan
itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada
Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya’.
Da'wah mengandung keutamaan, tidak satupun
pekerjaan yang lebih baik di dunia ini selain pekerjaan da'wah, keutamaan
da'wah itu diantaranya;
1.Merupakan nikmat Allah terbesar kepada manusia
Diantara nikmat yang diberikan Allah ialah
nikmat iman atau hidayah yang diperoleh dari perjuangan da'wah, Rasulullah
bersabda; "Dan seandainya Allah memberi petunjuk kepada seseorang
dengan sebab engkau, maka itu lebih baik bagimu daripada apa yang dijangkau
matahari sejak terbit hingga terbenam" [HR. Bukhari Muslim]
Tanpa
da'wah maka tidaklah akan sampai iman dan islam kepada kita pada hari ini dan
tentu kita masih dalam keadaan kafir, begitu besar nikmat da'wah itu sehingga
mampu melepaskan orang dari kekafiran dan mengantarkan pengikutnya ke dalam
syurga.
2.Da'wah itu pekerjaan para Nabi
Apapun pekerjaan yang dilakukan manusia
maka hal itu biasa, tapi pekerjaan da'wah
adalah pekerjaan yang luar biasa karena ini merupakan pekerjaan para
nabi, da'i meneruskan pekerjaan nabi ini hingga hari akhir, alangkah mulianya
kita bila mengemban pekerjaan para nabi; "Dia Telah mensyari'atkan bagi
kamu tentang agama apa yang Telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang Telah
kami wahyukan kepadamu dan apa yang Telah kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa
dan Isa yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya.
amat berat bagi orang-orang musyrik agama yang kamu seru mereka kepadanya.
Allah menarik kepada agama itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk
kepada (agama)-Nya orang yang kembali (kepada-Nya). [Asy Syura 42;13]
3.Pekerjaan yang paling mulia disisi Allah
Semua pekerjaan yang dilakukan manusia
selama untuk kebaikan adalah baik, tapi dari sekian pekerjaan itu ada pekerjaan
yang mulia dihadapan Allah yaitu berda'wah. Da'wah adalah pekerjaan yang paling
tinggi nilainya, da'wah adalah pekerjaan orang-orang piihan yaitu nabi dan
rasul maka juru da'wah adalah orang yang mulia setelah nabi dan rasul karena
mereka melakukan pekerjaan rasul; "Siapakah yang lebih baik
perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang
saleh, dan berkata: "Sesungguhnya Aku termasuk orang-orang yang menyerah
diri?"[Fushilat 41;33]
Rasulullah
bersabda; "Orang yang paling tinggi kedudukannya disisi Allah pada hari
kiamat adalah orang yang paling banyak berkeliling di muka bumi dengan memberi
nasehat kepada manusia" [HR. Thahawi]
4.Membawa du'at kepada kehidupan Rabbany
Da'wah membawa para da'i kepada kehidupan
Rabbany yaitu kehidupan yang penuh dengan nilai-nilai Ilahi, mereka tercelup
pada kehidupan yang islami sehingga kehidupannya jauh dari hal-hal yang negatif
dan tercela, mereka adalah orang-orang yang selalu mengajak orang kepada agama
Allah dan mereka adalah orang-orang yang selalu mengajar melalui pembinaan
terhadap mad'unya namun tidak lupa
belajar untuk kepentingan peningkatan kualitas diri dan keluarganya;
" Tidak wajar bagi seseorang manusia
yang Allah berikan kepadanya Al kitab, hikmah dan kenabian, lalu dia Berkata
kepada manusia: "Hendaklah kamu menjadi penyembah-penyembahku bukan
penyembah Allah." akan tetapi (Dia berkata): "Hendaklah kamu menjadi
orang-orang rabbani, Karena kamu selalu mengajarkan Al Kitab dan disebabkan
kamu tetap mempelajarinya" [Ali Imran 3;79]
Yang dikatakan dengan Rabbani itu adalah
orang yang selalu mengajar dan selalu secara terus menerus belajar Al Qur'an; "Sebaik-baik
kamu adalah orang yang mempelajari Al Qur'an dan mengajarinya" [HR.
Bukhari dan Muslim]
5.Membahagiakan hidup para pendukungnya
Orang
yang hidup dalam naungan da'wah islamiyah hidupnya akan tentram, jauh dari
gundah gulana apalagi stres sebagaimana yang difirman Allah dalam surat An Nahl
16;97 "Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun
perempuan dalam keadaan beriman, Maka Sesungguhnya akan kami berikan kepadanya
kehidupan yang baik dan Sesungguhnya akan kami beri balasan kepada mereka
dengan pahala yang lebih baik dari apa yang Telah mereka kerjakan"
Kebahagiaan
hidup para da'i terletak di hati, tidak akan dirasakan melainkan oleh
orang-orang yang terliibat di dalamnya.
Da’wah
memang tidak akan selesai oleh seorang da’i saja, tapi ada tidak peran kita di
dalamnya karena da’wah memang seperti bola salju, dia akan bergulir kencang
kebawah, semakin lama semakin membesar dan menggulung siapa saja, tapi ada
tidak peran mubaligh di dalamnya yang selama ini sering tampil di mibar-mimbar tapi melalaikan kaderisasi dalam da’wah,
silahkan sibukkan diri dalam tabligh apa saja tapi jangan lupakan takwin yaitu
pembinaan ummat walaupun hanya satu orang, Rasulullah bersabda,”Seandainya
Allah memberi petunjuk kepada seseorang dengan sebab engkau, maka itu lebih
baik bagimu daripada apa yang dijangkau
matahari sejak terbit hingga terbenam”
Obyek pertama dari da’wah ialah rumah
tangga sebagaimana Nabi mempraktekkan kepada isteri dan anaknya serta kepada
budak dan orang yang dibawah tanggungjawabnya. Setelah itu baru tingakat lebih
tinggi yaitu kerabat dekat atau masyarakat. Dalam menyampaikan da’wah kepada
keluarga banyak mengalami kesulitan baik itu isteri atau anak sendiri sehingga
banyak da’i yang mundur dari gelanggang da’wah di tengah masyarakat karena dia tidak
mampu membina serta mengarahkan keluarganya, apalah artinya keberhasilan da’wah
di masyarakat sementara keluarga terbengkalai, sang da’i ini mengalami tekanan
psikologis, sementara anak dan isteri sebagai penentang utama sebagaimana yang
dialami Nabi Nuh yang ditentang anaknya sendiri, Nabi Luth tidak diikuti oleh
isterinya, Nabi Muhammad yang ditentang pamannya.
Da’wah
yang paling berat yaitu di rumah tangga, mampukah seorang ayah mengajak anak
dan isterinya untuk menciptakan keluarga muslim atau isteri membawa suami dan
anaknya menjalankan perintah Allah atau anak dengan ilmu yang dimilikinya
meluruskan langkah orangtuanya. Bila usaha ini telah dilakukan dengan
sungguh-sungguh sebenarnya telah terlepaslah kewajiban perorangan di hadapan
Allah dalam menjalankan amar ma’ruf nahyi mungkar.
Akan
tetapi dalam masyarakat kita rasa jemu ini telah menjalar, sekali dua kali
ucapan ayah tidak diladeni isteri dan anaknya dia biarkan saja lagi, sudah
sekian kali isteri mengajak suami dan anaknya untuk melakukan amaliah ibadah
akhirnya luntur tidak pernah terdengar lagi, dengan nada keras anakpun
mempropagandakan syurga kepada orangtuanya tapi tetap diacuhkan. Semua
peristiwa diatas akhirnya mengalami kebosanan pada masing-masing pribadi,
akhirnya anak, isteri atau suami melakukan perbuatan tercela tidak lagi
digubris, karena dianggap segala nasehat telah cukup.
Seorang
da’i yang demikian, mudah putus asa, jiwanya pesimis maka tidaklah berhasil
da’wahnya, sebenarnya Allahpun tidaklah melihat hasil yang diperoleh tapi
kesungguhan dalam usaha. Bila betul-betul dengan kesungguhan serta kemampuan
telah dikerahkan, tanpa ada rasa bosan mengajak walaupun gagal maka Allah tidak
akan mencela bahkan dicatat sebagai amal yang patut dipuji, karena masalah
hdiayah dan kesadaran agama disamping diusahakan juga karena hidayah dan kuasa
Allah.
Seorang
anak baru saja tamat dari perguruan Islam dengan bekal ilmu agama yang cukup
mapan ditambah pula dengan ilmu pengetahuan umum lainnya. Problem utama yang
akan dihadapi adalah keluarganya. Tentu saja ilmu yang telah diterimanya akan
diterapkan dalam keluarga yang keislamannya masih dilapisi oleh khurafat,
tahyul, bid’wah dan syirik. Ketegasan si anak dalam hal ini tetap akan
ditentang oleh orangtuanya karena di hati orangtua telah berkarat ajaran yang
dilapisi tradisi berhala. Ketika anak berkata kepada orangtuanya tentang islam
yang sebenarnya sesuai dengan ajaran Al Qur’an dan Hadits akan ditolak dengan
ucapan, ”Nak ini ajaran nenek moyang kita
dahulu, kamu belum tahu karena masih kecil, kan baru kemaren tamat sekolah”,
pasti tantangan pertama adalah keluraga.
Dalam
menyampaikan kebenaran pada kelompok ramai atau masyarakat tidaklah begitu
sulit dan sedikit resiko atau beban mentalnya tetapi untuk keluarga sendiri
terlalu banyak kendala apalagi merombak suatu tradisi, memang bicara kebenaran
dalam keluarga akan ditentang oleh anak dan isteri. Orang lain mudah tersentuh
dengan dalil dan ajakan dari seseorang, tapi untuk menyentuh hati anak dan
isteri terlalu sulit sebagaimana sebuah riwayat yang terjadi di masa Khalifah
Umar bin Khattab dan hal ini memang terjadi pada diri beliau sendiri.
Pada suatu hari seorang sahabat ingin datang kepada Umar
mengadukan peristiwa dia dengan keluarganya yaitu sang isteri yang tidak bisa
dibentuk atau diarahkan ke jalan yang benar, pertengkaran selalu terjadi dalam
rumah tangga. Kalaulah satu minggu ada tujuh hari, hanya satu hari saja adanya
gencatan senjata [damai]. Dia datang dengan maksud minta nasehat Umar,
bagaimana atau resep apa yang bagus untuk mengatasi hal itu.
Baru saja dia sampai di pintu gerbang rumah Umar, dia
dikejutkan oleh keributan dalam rumah tersebut. Jelas betul bahwa keributan itu
dialami oleh Umar dan isterinya, dia perhatikan agak lama akhirnya mengambil
kesimpulan untuk mengurungkan niatnya kembali saja pulang. Rupanya Umar melihat
tamu di luar yang akan pulang, dipanggilnya tamu itu dipersilahkan masuk serta
terjadilah dialoq, ”Maksud kedatangan saya yaitu ingin minta nasehat Amirul
Mukminin untuk keluarga kami, saya begitu sulit memberikan kebenaran dan
menunjukkan isteri saya, sehingga sering dalam rumah terjadi pertikaian
pendapat yang diakhiri dengan pertengkaran. Tapi setelah sampai disini saya
melihat dalam rumah khalifah seperti apa yang saya alami, sehingga saya
batalkan maksud saya”.
Mendengar keluhan
sahabatnya itu Umar menjawab, ”Saya memang orang yan ditakuti dalam masyarakat,
orang segan kepada saya, tetapi setelah berada di rumah maka saya adalah orang
yang lemah, keluarga saya terutama isteri tidak akut dan segan kepada saya,
kita senasib ya sahabat”.
Itulah
sebuah gambaran bahwa keperkasaan seorang suami, kehebatannya di masyarakat
belum tentu perkasa dan hebat dalam rumah tangga untuk menyampaikan misi
da’wahnya. Tantangan ini selalu hadir dan dihadapi oleh da’i atau mubaligh,
penentang misinya kebanyakan adalah orang yang dicintainya serta lebih dekat
dengannya. Apakah seorang da’i tersebut akan tetap berda’wah atau mundur karena dia tidak mampu membina
keluarganya. Tidaklah demikian sebagaimana dengan nabi Nuh bersama kaumnya
walaupun anaknya sendiri menentang, bagaimana nabi Ibrahim meskipun dimusuhi
oleh ayahnya sendiri dan bagaimana dengan nabi Muhammad yang selalu dikejar
bahkan nyaris dibunuh oleh Abu Lahab seorang pamannya, orang yang dekat denganya
yang seharusnya menerima dukungan dan pembelaan.
Tugas seorang da’i dimanapun dia berada harus
berda’wah walaupun di Lembaga legislatif, eksekutif ataupun yudikatif. Tentu dengan cara dan sistim yang berbeda
dari sebelumnya, walaupun hari ini mereka sebagai anggota dewan tapi sejak
dahulu tugas mulia yang diembannya sebagai da’i tidak bisa dilupakan. Boleh
saja sang da’i berhenti di dewan tapi
tugas dakwahnya tidak boleh berhenti.
Mimbar dewan sangat efektif untuk
menyuarakan hati nurani rakyat melalui pandangan umum anggota atau penyampaian
pendapat akhir fraksi, sidang-sidang komisi, gabungan komisi, kunjungan kerja
menjadi sebuah peluang untuk menyampaikan kebenaran secara universal. Bagaimana
anggota dewan bisa meminimalisir bahkan menyetop pengeluaran dana untuk
kepentingan yang tidak/belum bermanfaat karena banyak kebutuhan yang belum
terperhatikan yang semuanya membutuhkan biaya.
Pendistribusian dana untuk kepentingan
umat dapat terarah dengan baik jika anggota dewan resfon terhadap kepentingan
masyarakatnya seperti pendidikan yang membutuhkan dana tidak sedikit sementara
mutunya anjlok. Begitu juga untuk biaya kesehatan menghindari ancaman kematian
bayi dan ibu hamil, penghayatan dan pengamalan ajaran agama di tengah
masyarakat dan sejuta problematika masyarakat yang sulit dilukiskan.
Da’i yang komitmen dengan nilai-nilai
dakwah yang dia bawa, maka kehadirannya di dewan yang utama adalah dakwah, baik
melalui ucapan atau tingkah laku. Prilaku moralis dan agamis yang ditampilkan
oleh seorang anggota dewan membuat orang simpati dengan partai yang dia
tumpangi. Sebaliknya demikian pula seorang da’i yang bertentangan cara
berfikir, bertindak dan ucapannya di tengah masyarakat akan merugikan dakwah
dan partai.
Hal yang sangat sensitif di dewan itu
adalah masalah uang dan main uang, umumnya pada saat pemilihan Kepala Daerah
dan Laporan Pertanggung Jawaban [LPJ] Kepala Daerah. Mengingat pembahasannya
menyangkut uang, sang Kepala Daerah setelah menyerahkan uang untuk menggolkan
maksudnya dia harus mencari kembali proyek yang bisa mengembalikan uang
hilangnya itu. Sayangnya juga mengimbas pada anggota dewan yang identitasnya
adalah da’i atau ulama yang selama ini dia berteriak bahwa money politic itu
haram, tapi nyatanya dikala dia kebagian tidak terdengar suaranya lagi.
Artinya banyak da’i yang telah
menghalalkan uang riba di Bank, membolehkan sogok menyogok, manipulasi kwitansi
dianggap wajar dan segudang kerusakan moral lainnya. Hal itu terjadi ketika sang da’i atau ulama ada di
dewan. Lalu mana lagi yang akan diikuti oleh ummat kalau tokoh agamanya sendiri
saja sudah rusak begitu ? Komitmen keislaman sang da’i diuji ketika duduk
dimana saja sama apalagi tempat yang
rawan terjadi gelimang uang dan harta, mungkin sebagai anggota legislatif,
eksekutif atau yudikatif. Karena memang ujian dunia itu selain kekuasaan,
wanita dan juga harta.
Namun dari sekian banyak prilaku negatif
anggota dewan yang berstatus da’i, masih ada di antara mereka yang tidak larut
di dalamnya. Bahkan ada yang sejak berada di dewan, dia telah mengkampanyekan
bahwa money politic itu sebuah pembodohan terhadap rakyat dan bertentangan
dengan hati nurani, adat dan agama sehingga dalam pemilihan Kepala Daerah dan
setiap pembahasan LPJ Kepala Daerah tidak mengeluarkan sepeserpun uang untuk itu. Sementara di tempat lain ada
informasi dua orang anggota dewan di Jawa Barat ketika diketahui rekeningnya
sudah membengkak masing-masing dengan
tambahan setengah miliar rupiah, lalu uang itu dibagikan pada masyarakat yang
membutuhkan. Wallahu a'lam
[Cubadak Solok, 18 Ramadhan 1431.H/ 28 Agustus 2010]
Langganan:
Komentar (Atom)

